Kamis, 29 Desember 2011

MAKALAH SUKU SUNDA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah
Bahasa adalah alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi atau berhubungan, baik lewat tulisan, lisan, ataupun gerakan (bahasa isyarat), dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau kemauan kepada lawan bicaranya atau orang lain. Melalui bahasa, manusia dapat menyesuaikan diri dengan adat istiadat, tingkah laku, tata krama masyarakat, dan sekaligus mudah membaurkan dirinya dengan segala bentuk masyarakat.Bahasa memiliki beberapa fungsi yang dapat dibagi menjadi fungsi umum dan fungsi khusus.Fungsi bahasa secara umum adalah sebagai alat untuk berekspresi, berkomunikasi, dan alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial.Sedangkan fungsi bahasa secara khusus adalah untuk mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari, mewujudkan seni (sastra), mempelajari naskah-naskah kuno, dan untuk mengeksploitasi ilmu pengetahuan dan teknologi.
Bahasa-bahasa daerah atau minoritas adalah bahasa-bahasa yang:
1) Secara tradisional digunakan dalam wilayah suatu negara, oleh warga negara dari negara tersebut, yang secara numerik membentuk kelompok yang lebih kecil dari populasi lainnya di negara tersebut; dan
2) Berbeda dari bahasa resmi (atau bahasa-bahasa resmi) dari negara tersebut.
Betapa pentingnya sebuah bahasa dalam kebudayaan hingga setiap daerah memiliki gaya bahasa yang berbeda-beda. Salah satunya adalah penggunaan bahasa Sunda (Jawa Barat) adalah salah satu dari sekian bahasa daerah yang ada di Indonesia.Tetapi saat ini generasi muda sudah mulai terasa sedikit demi sedikit menghilangkan kebiasaan berbahasa sunda, hilangnya kebiasaan berbahasa Sunda di kalangan generasi muda tidak terlepas dari peran orang tua.Karena, banyak para orang tua yang tidak lagi membiasakan berbahasa Sunda kepada anak-anaknya.Selain itu, pengaruh budaya asing yang masuk melalui televisi dan internet turut berperan mengikis kebiasaan berbahasa Sunda.Pengaruh budaya asing pun telah membangun paradigma baru yang mengesankan bahasa daerah sebagai bahasa tertinggal.Hal itu terjadi terutama di kota-kota besar dan ramai.
Bahasa merupakan salah satu unsur dari budaya, jika bahasanya sudah mulai punah pasti kebudayaannya jauh lebih dahulu punah.Mengembangkan dan melestarikan kebudayaan tradisional, salah satunya harus dimulai dari bahasa.Sebab penggunaan bahasa Sunda di kalangan masyarakat Jawa Barat sudah mulai ditinggalkan.Berdasarkan penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), budaya Sunda merupakan salah satu etnis yang laju penggerusannya paling cepat kedua setelah etnis Betawi.Hal ini sangat mengkhawatirkan.
Selain unsur bahasa, salah satu unsur yang penting dalam sebuah budaya adalah adalah unsur kesenian. Kesenian mengacu pada nilai keindahan (estetika) yang berasal dari ekspresi hasrat manusiaakan keindahan yang dinikmati dengan mata ataupun telinga. Sebagai makhluk yang mempunyai cita rasa tinggi, manusia menghasilkan berbagai corak kesenian mulai dari yang sederhana hingga perwujudan kesenian yang kompleks.
Masyarakat Sunda begitu gemar akan kesenian, sehingga banyak terdapat berbagai jenis kesenian, diantaranya seperti :
1. Seni tari : tari topeng, tari merak, tari sisingaan dan tari jaipong.
2. Seni suara dan musik :
a. Degung (semacam orkestra) : menggunakan gendang, gong, saron, kecapi, dll.
b. Salah satu lagu daerah Sunda antara lain yaitu Bubuy bulan, Es lilin, Manuk dadali, Tokecang dan Warung pojok.
3. Wayang golek
4. Senjata tradisional yaitu kujang, dll.
Kesenian saat ini juga sudah mulai terkikis, sudah banyak para generasi muda yang lambat laun meninggalkan kesenian tradisional daerah.Sehingga perlu pengetahuan dan pelestarian agar kesenian daerah tidak menghilangkan salah satu dari unsur kebudayaan.

1.2 Fenomena
Fenomena yang terjadi pada masyarakat khususnya para generasi muda adalah kurangnya pengetahuan mengenai pentingnya berbahasa daerah (bahasa Sunda) yang diikuti dengan kurangnya orang tua menanamkan nilai budaya berbahasa daerah (bahasa Sunda) didalam kehidupan sehari-hari dan pengaruh budaya asing yang masuk melalui televisi dan internet.Sehingga para generasi muda tidak lagi mementingkan bahasa daerah.Penggunaan Bahasa Indonesia pun tidak lagi menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Begitu pula dengan kesenian, adanya modernisasi membuat kesenian-kesenian tradisional mulai tidak menarik bagi generasi muda. Para generasi muda lebih senang bermain Band dengan alat-alat musik yang lebih modern dibandingkan dengan bermain alat musik tradisional yang masih berbahan baku kayu ataupun bambu. Kini kesenian tradisional hanya ada di beberapa acara-acara besar, tidak lagi sesering dahulu selalu ada dalam kegiatan-kegiatan adat. Bahasa dan kesenian pun semakin akan hilang ketika para generasi muda tidak lagi mengetahui dan melestarikan bahasa dan kesenian sebagai kebudayaan daerah (Sunda) atau kebudayaan bangsa.

1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran Pengaruh Pengetahuan Bahasa dan Kesenian terhadap Upaya Melestarikan Bahasa dan Kesenian Kebudayaan Sunda pada Generasi Muda dan untuk mengetahui dampak Pengaruh Pengetahuan Bahasa dan Kesenian terhadap Upaya Melestarikan Kebudayaan Sunda pada Generasi Muda.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Kebudayaan Sunda
A. Sejarah Suku Sunda
Suku Sunda adalah kelompok etnis yang berasal dari bagian barat pulau Jawa, Indonesia, yang mencakup wilayah administrasi provinsi Jawa Barat. Suku Sunda merupakan etnis kedua terbesar di Indonesia, setelah etnis Jawa. Sekurang-kurangnya 15,41% penduduk Indonesia merupakan orang Sunda. Mayoritas orang Sunda beragama Islam. Namun dalam kehidupan sehari-hari, masih banyak masyarakat yang mempercayai kekuatan-kekuatan supranatural, yang berasal dari kebudayaan animisme dan Hindu.
Jati diri yang mempersatukan orang Sunda adalah bahasanya dan budayanya. Orang Sunda dikenal memiliki sifat optimistis, ramah, sopan, dan riang, akan tetapi mereka dapat bersifat pemalu dan terlalu perasa secara emosional.Karakter orang Sunda seringkali ditampilkan melalui tokoh populer dalam kebudayaan Sunda; Kabayan dan Cepot. Mereka bersifat riang, suka bercanda, dan banyak akal, tetapi seringkali nakal.
Secara Etimologi Sunda berasal dari kata Su yang berarti segala sesuatu yang mengandung unsur kebaikan. Orang Sunda meyakini bahwa memiliki etos atau karakter Kasundaan, sebagai jalan menuju keutamaan hidup. Karakter Sunda yang dimaksud adalah cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), singer (mawas diri), dan pinter (cerdas). Karakter ini telah dijalankan oleh masyarakat yang bermukim di Jawa bagian barat sejak zaman Kerajaan Salakanagara.
Nama Sunda mulai digunakan oleh raja Purnawarman pada tahun 397 untuk menyebut ibukota Kerajaan Tarumanagara yang didirikannya. Untuk mengembalikan pamor Tarumanagara yang semakin menurun, pada tahun 670, Tarusbawa, penguasa Tarumanagara yang ke-13, mengganti nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda. Kemudian peristiwa ini dijadikan alasan oleh Kerajaan Galuh untuk memisahkan negaranya dari kekuasaan Tarusbawa. Dalam posisi lemah dan ingin menghindarkan perang saudara, Tarusbawa menerima tuntutan raja Galuh. Akhirnya kawasan Tarumanagara dipecah menjadi dua kerajaan, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh dengan Sungai Citarum sebagai batasnya.

B. Unsur-unsur Budaya Sunda
1.BAHASA
Bahasa Sunda juga mengenal tingkatan dalam bahasa, yaitu unda-usuk bahasa untuk membedakan golongan usia dan status sosial antara lain yaitu :
1) Bahasa Sunda lemes (halus) yaitu dipergunakan untuk berbicara dengan orang tua, orang yang dituakan atau disegani.
2) Bahasa Sunda sedang yaitu digunakan antara orang yang setaraf, baik usia maupun status sosialnya.
3) Bahasa Sunda kasar yaitu digunakan oleh atasan kepada bawahan, atau kepada orang yang status sosialnya lebih rendah.
Namun demikian, di Serang, dan Cilegon, bahasa Banyumasan (bahasa Jawa tingkatan kasar) digunakan oleh etnik pendatang dari Jawa.
2. RELIGI
Sebagain besar masyarakat suku Sunda menganut agama Islam, namun ada pula yang beragama kristen, Hindu, Budha, dll. Mereka itu tergolong pemeluk agama yang taat, karena bagi mereka kewajiban beribadah adalah prioritas utama. Contohnya dalam menjalankan ibadah puasa, sholat lima waktu, serta berhaji bagi yang mampu. Mereka juga masih mempercayai adanya kekuatan gaib.Terdapat juga adanya upacara-upacara yang berhubungan dengan salah satu fase dalam lingkaran hidup, mendirikan rumah, menanam padi, dan lain-lainnya.
3. TEKNOLOGI
Hasil-hasil teknologi terkini sangat mudah didapatkan seperti alat-alat yang digunakan untuk pertanian yang dasa jaman dulu masih menggunakan alat-alat tradisional, kini sekarang telah berubah menggunakan alat-alat modern, seperti traktor dan mesin penggiling padi.Disamping itu juga sudah terdapat alat-alat telekomunikasi dan barang elektronik modern.
4. MATA PENCAHARIAN
Mata pencaharian pokok masyarakat Sunda adalah
1) Bidang perkebunan, seperti tumbuhan teh, kelapa sawit, karet, dan kina.
2) Bidang pertanian, seperti padi, palawija, dan sayur-sayuran.
3) Bidang perikanan, seperti tambak udang, dan perikanan ikan payau.
Selain bertani, berkebun dan mengelola perikanan, ada juga yang bermata pencaharian sebagai pedagang, pengrajin, dan peternak.
5. ORGANISASI SOSIAL
Sistem kekerabatan yang digunakan adalah sistem kekerabatan parental atau bilateral, yaitu mengikuti garis keturunan kedua belh phak orang tua.Pada saat menikah, orang Sunda tidak ada keharusan menikah dengan keturunan tertentu asal tidak melanggar ketentuan agama.Setelah menikah, pengantin baru bisa tinggal ditempat kediaman istri atau suami, tetapi pada umumnya mereka memilih tinggal ditempat baru atau neolokal. Dilihat dari sudut ego, orang Sunda mengenal istilh tujuh generasi keatas dan tujuh generasi ke bawah, antara lain yaitu :
Tujuh generasi keatas : Kolot, Embah, Buyut, Bao, Janggawareng, Udeg-udeg, Gantung siwur. Tujuh generasi kebawah : Anak, Incu, Buyut, Bao, Janggawareng, Udeg-udeg, Gantung siwur.
6. SISTEM PENGETAHUAN
Fasilitas yang cukup memadai dalam bidang pengetahuan maupun informasi memudahkan masyarakat dalam memilih institusi pendidikan yang akan mereka masuki dalam berbagai jenjang. Seperti pada permulaan masa kemerdekaa di Jawa Barat terdapat 358.000 murid sekolah dasar, kemudian pada tahun 1965 bertambah menjadi 2.306.164 murid sekolah dasar. Jadi berarti mengalami kenaikan sebanyak 544%.Pada saat ini pada era ke- 20 disetiap ibukota kabupaten telah tersedia universitas-universitas, fakultas-fakultas, dan cabang-cabang universitas.
7. KESENIAN
Masyarakat Sunda begitu gemar akan kesenian, sehingga banyak terdapat berbagai jenis kesenian, diantaranya seperti :
1) Seni tari : tari topeng, tari merak, tari sisingaan dan tari jaipong.
2) Seni suara dan musik :
a. Degung (semacam orkestra) : menggunakan gendang, gong, saron, kecapi, dll.
b. Salah satu lagu daerah Sunda antara lain yaitu Bubuy bulan, Es lilin, Manuk dadali.
3) Wayang golek.
4) Senjata tradisional yaitu kujang.

C. Bahasa Sunda
1.Variasi dalam bahasa Sunda
Bahasa Sunda adalah sebuah bahasa dari cabang Melayu-Polinesia dalam rumpun bahasa Austronesia. Bahasa ini dituturkan oleh sekitar 27 juta orang dan merupakan bahasa dengan penutur terbanyak kedua di Indonesia setelah Bahasa Jawa. Bahasa Sunda dituturkan di sebagian besar provinsi Jawa Barat (kecuali kawasan pantura yang merupakan daerah tujuan urbanisasi di mana penutur bahasa ini semakin berkurang), melebar hingga batas Kali Pemali (Cipamali) di wilayah Brebes dan Majenang, Cilacap Jawa Tengah, dan di kawasan selatan provinsi Banten.
Dari segi linguistik, bersama bahasa Baduy, bahasa Sunda membentuk suatu rumpun bahasa Sunda yang dimasukkan ke dalam rumpun bahasa Melayu-Sumbawa.
Dalam percakapan sehari-hari, etnis Sunda banyak menggunakan bahasa Sunda. Namun kini telah banyak masyarakat Sunda terutama yang tinggal di perkotaan tidak lagi menggunakan bahasa tersebut dalam bertutur kata. Seperti yang terjadi di pusat-pusat keramaian kota Bandung dan Bogor, dimana banyak masyarakat yang tidak lagi menggunakan bahasa Sunda.
Ada beberapa dialek dalam bahasa Sunda, antara lain dialek Sunda-Banten, dialek Sunda-Bogor, dialek Sunda-Priangan, dialek Sunda-Jawa, dan beberapa dialek lainnya yang telah bercampur baur dengan bahasa Jawa dan bahasa Melayu. Karena pengaruh budaya Jawa pada masa kekuasaan Kerajaan Mataram Islam, bahasa Sunda - terutama dialek Sunda Priangan - mengenal beberapa tingkatan berbahasa, mulai dari bahasa halus, bahasa loma/lancaran, hingga bahasa kasar. Namun di wilayah-wilayah pedesaan dan mayoritas daerah Banten, bahasa Sunda loma tetap dominan.
Dialek (basa wewengkon) bahasa Sunda beragam, mulai dari dialek Sunda-Banten, hingga dialek Sunda-Jawa Tengahan yang mulai tercampur bahasa Jawa. Para pakar bahasa biasanya membedakan enam dialek yang berbeda. Dialek-dialek ini adalah Dialek Barat, Dialek Utara, Dialek Selatan, Dialek Tengah Timur, Dialek Timur Laut, Dialek Tenggara.
Dialek Barat dipertuturkan di daerah Banten selatan. Dialek Utara mencakup daerah Sunda utara termasuk kota Bogor dan beberapa bagian Pantura. Lalu dialek Selatan adalah dialek Priangan yang mencakup kota Bandung dan sekitarnya. Sementara itu dialek Tengah Timur adalah dialek di sekitar Majalengka. Dialek Timur Laut adalah dialek di sekitar Kuningan, dialek ini juga dipertuturkan di beberapa bagian Brebes, Jawa Tengah. Dan akhirnya dialek Tenggara adalah dialek sekitar Ciamis.
Bahasa Sunda Kuna adalah bentuk bahasa Sunda yang ditemukan pada beberapa catatan tertulis, baik di batu (prasasti) maupun lembaran daun kering (lontar). Tidak diketahui apakah bahasa ini adalah dialek tersendiri atau merupakan bentuk yang menjadi pendahulu bahasa Sunda modern. Sedikitnya literatur berbahasa Sunda menyulitkan kajian linguistik varian bahasa ini.
2. Sejarah dan penyebaran
Bahasa Sunda terutama dipertuturkan di sebelah barat pulau Jawa, di daerah yang dijuluki Tatar Sunda. Namun demikian, bahasa Sunda juga dipertuturkan di bagian barat Jawa Tengah, khususnya di Kabupaten Brebes dan Cilacap. Banyak nama-nama tempat di Cilacap yang masih merupakan nama Sunda dan bukan nama Jawa seperti Kecamatan Dayeuhluhur, Cimanggu, dan sebagainya. Ironisnya, nama Cilacap banyak yang menentang bahwa ini merupakan nama Sunda. Mereka berpendapat bahwa nama ini merupakan nama Jawa yang "disundakan", sebab pada abad ke-19 nama ini seringkali ditulis sebagai "Clacap".
Selain itu menurut beberapa pakar bahasa Sunda sampai sekitar abad ke-6 wilayah penuturannya sampai di sekitar Dataran Tinggi Dieng di Jawa Tengah, berdasarkan nama "Dieng" yang dianggap sebagai nama Sunda (asal kata dihyang yang merupakan kata bahasa Sunda Kuna). Seiring mobilisasi warga suku Sunda, penutur bahasa ini kian menyebar. Misalnya, di Lampung, di Jambi, Riau dan Kalimantan Selatan banyak sekali, warga Sunda menetap di daerah baru tersebut.
3. Fonologi
Saat ini Bahasa Sunda ditulis dengan Abjad Latin dan sangat fonetis. Ada lima suara vokal murni (a, é, i, o, u), dua vokal netral, (e (pepet) dan eu (ɤ), dan tidak ada diftong. Fonem konsonannya ditulis dengan huruf p, b, t, d, k, g, c, j, h, ng, ny, m, n, s, w, l, r, dan y.
Konsonan lain yang aslinya muncul dari bahasa Indonesia diubah menjadi konsonan utama: f -> p, v -> p, sy -> s, sh -> s, z -> j, and kh -> h.

Berikut adalah fonem dari bahasa Sunda dalam bentuk tabel. Pertama vokal disajikan. (Silahkan isi sesuai keinginan)
Vokal Depan Madya Belakang
Tertutup iː uː
Tengah e ə o
Hampir Terbuka (ɛ) ɤ (ɔ)
Terbuka a

Dan di bawah ini adalah tabel konsonan.
Bibir Gigi Langit2 keras Langit2 lunak Celah suara
Sengau m n ɲ ŋ
Letap p b t d c ɟ k g ʔ
Desis s h
Getar/Sisi l r
Hampiran w j

4. Perbedaan dengan Bahasa Sunda di Banten
Bahasa Sunda yang berada di Banten, serta yang berada di daerah Priangan (Garut, Tasikmalaya, Bandung, dll.) memiliki beberapa perbedaan. Mulai dari dialek pengucapannya, sampai beberapa perbedaan pada kata-katanya. Bahasa Sunda di Banten juga umumnya tidak mengenal tingkatan, Bahasa Sunda tersebut masih terlihat memiliki hubungan erat dengan bahasa Sunda Kuna. Namun oleh mayoritas orang-orang yang berbahasa Sunda yang memiliki tingkatan (Priangan), Bahasa Sunda Banten (Rangkasbitung, Pandeglang) digolongkan sebagai bahasa Sunda kasar. Namun secara prakteknya, Bahasa Sunda Banten digolongkan sebagai Bahasa Sunda dialek Barat. Pengucapan bahasa Sunda di Banten umumnya berada di daerah Selatan Banten (Lebak, Pandeglang). Berikut beberapa contoh perbedaannya:
Ketika sedang berpendapat:
Sunda Banten (Rangkasbitung): "Jeuuuh aing mah embung jasa jadi doang jelma nu kedul!"
Sunda Priangan: "Ah abdi mah alim janten jalmi nu pangedulan teh!"
Bahasa Indonesia: "Wah saya sangat tidak mau menjadi orang yang malas!"
Ketika mengajak kerabat untuk makan (misalkan nama kerabat adalah Eka) :
Sunda Banten (Rangkasbitung): "Teh Eka, maneh arek hakan teu?"
Sunda Priangan: "Teh Eka, badé tuang heula?"
Bahasa Indonesia: "(Kak) Eka, mau makan tidak?"
Ketika sedang berbelanja:
Sunda Banten (Rangkasbitung): "Lamun ieu dangdeur na sabarahaan mang? Tong mahal jasa."
Sunda Priangan: "Dupi ieu sampeu sabarahaan mang? Teu kénging awis teuing nya"
Bahasa Indonesia: "Kalau (ini) harga singkongnya berapa bang? Jangan kemahalan."
Ketika sedang menunjuk:
Sunda Banten (Rangkasbitung): "Eta diditu maranehna orok aing"
Sunda Priangan: " Eta palih ditu réréncangan abdi. "
Bahasa Indonesia: "Mereka semua (di sana) adalah teman saya"
Meski berbeda pengucapan dan kalimat, namun bukan berarti beda bahasa, hanya berbeda dialek. Berbeda halnya dengan bahasa Sunda Priangan yang telah terpengaruh dari kerajaan Mataram. Hal itu yang menyebabkan bahasa Sunda Priangan, memiliki beberapa tingakatan. Sementara bahasa Sunda Banten, tidak memiliki tingkatan. Penutur aktif bahasa Sunda Banten saat ini, contohnya adalah orang-orang Sunda yang tinggal di daerah Banten bagian selatan (Pandeglang, Lebak). Sementara masyarakat tradisional pengguna dialek ini adalah suku Baduy di Kabupaten Lebak.
Sementara wilayah Utara Banten, seperti Serang, umumnya menggunakan bahasa campuran (multi-bilingual) antara bahasa Sunda dan Jawa.

D. Kesenian Sunda
Kesenian mengacu pada nilai keindahan (estetika) yang berasal dari ekspresi hasrat manusia akan keindahan yang dinikmati dengan mata ataupun telinga. Sebagai makhluk yang mempunyai cita rasa tinggi, manusia menghasilkan berbagai corak kesenian mulai dari yang sederhana hingga perwujudan kesenian yang kompleks.
1. Seni Tari
a. TARI JAIPONGAN
Tanah Sunda (Priangan) dikenal memiliki aneka budaya yang unik dan menarik, Jaipongan adalah salah satu seni budaya yang terkenal dari daerah ini. Jaipongan atau Tari Jaipong sebetulnya merupakan tarian yang sudah moderen karena merupakan modifikasi atau pengembangan dari tari tradisional khas Sunda yaitu Ketuk Tilu.Tari Jaipong ini dibawakan dengan iringan musik yang khas pula, yaitu Degung. Musik ini merupakan kumpulan beragam alat musik seperti Kendang, Go’ong, Saron, Kacapi, dsb. Degung bisa diibaratkan ‘Orkestra’ dalam musik Eropa/Amerika. Ciri khas dari Tari Jaipong ini adalah musiknya yang menghentak, dimana alat musik kendang terdengar paling menonjol selama mengiringi tarian. Tarian ini biasanya dibawakan oleh seorang, berpasangan atau berkelompok. Sebagai tarian yang menarik, Jaipong sering dipentaskan pada acara-acara hiburan, selamatan atau pesta pernikahan.
b. TARI MERAK
Merak yaitu binatang sebesar ayam, bulunya halus dan dikepalanya memiliki seperti mahkota. Kehidupan merak yang selalu mengembangkan bulu ekornya agar menarik burung merak wanita meninspirasikan R. Tjetje Somantri untuk membuat tari Merak ini.
Dalam pertunjukannya, ciri bahwa itu adalah terlihat dari pakaian yang dipakai penarinya memiliki motif seperti bulu merak. Kain dan bajunya menggambarkan bentuk dan warna bulu-bulu merak; hijau biru dan/atau hitam. Ditambah lagi sepasang sayapnya yang melukiskan sayap atau ekor merak yang sedang dikembangkan. Gambaran merak bakal jelas dengan memakai mahkota yang dipasang di kepala setiap penarinya.
Tarian ini biasanya ditarikan berbarengan, biasanya tiga penari atau bisa juga lebih yang masing-masing memiliki fungsi sebagai wanita dan laki-lakinya. Iringan lagu gendingnya yaitu lagu Macan Ucul biasanya. Dalam adegan gerakan tertentu terkadang waditra bonang dipukul di bagian kayunya yang sangat keras sampai terdengar kencang, itu merupakan bagian gerakan sepasang merak yang sedang bermesraan.
Dari sekian banyaknya tarian yang diciptakan oleh Raden Tjetje Somantri, mungkin tari Merak ini merupakan tari yang terkenal di Indonesia dan luar negeri. Tidak heran kalau seniman Bali juga, diantaranya mahasiswa ASKI Denpasar menciptakan tari Manuk Rawa yang konsep dan gerakannya hampir mirip dengan tari Merak.
c. TARI TOPENG
Tari Topeng Priangan merupakan buah karya maestro tari Sunda Nugraha Soradiredja. Dalam Tari Topeng terdapat 5 karakter utama atau lebih terkenal dengan TOPENG 5 Watakyaitu :
1) Topeng Panji yang menceritakan awal kehidupan manusia, sehingga topeng yang dipakai berwarna putih bersih dan gerakannya yang lebih halus dan lembut. Bahkan hampir tidak ada gerakan berjalan.
2) Topeng Samba atau Pamindo lebih lincah dalam gerakan karena lebih menampilkan kisah masa kanak-kanak.
3) Topeng Rumiyang merupakan tarian dengan pase manusia telah meningkat ke akhir baligh sehingga gerakan yang lincah dan lembut berbaur menjadi satu.
4) Topeng Patih atau Tumenggung menampilkan sosok manusia dewasa dengan gerakan yang lebih tegas.
5) Topeng Kelana atau Rahwana menggambarkan tentang amarah pada diri manusia sehingga setiap gerakannya tegas dan memerlukan tenaga lebih besar dari watak yang lainnya.
Tari topeng juga sering ditarikan dalam bentuk sendratari kecil selain tari topeng 5 watak ada juga topeng 3 watak yang menceritakan tentang Rahwana yang ingin mempersunting Dewi Shinta.
Topeng 3 Watak hanya menampilkan 3 watak topeng yaitu Topeng Rumiyang atau Kencana Wungu sebagai Dewi Shinta yang ditarikan oleh penari wanita dalam balutan kostum ungu, lalu Topeng Patih dan Topeng Rahwana yang identik dengan warna merah.

2. Seni Musik dan Suara
Selain seni tari, tanah Sunda juga terkenal dengan seni suaranya. Dalam memainkan Degung biasanya ada seorang penyanyi yang membawakan lagu-lagu Sunda dengan nada dan alunan yang khas. Penyanyi ini biasanya seorang wanita yang dinamakan Sinden. Tidak sembarangan orang dapat menyanyikan lagu yang dibawakan Sinden karena nada dan ritme-nya cukup sulit untuk ditiru dan dipelajari.Dibawah ini salah salah satu musik/lagu daerah Sunda : Bubuy Bulan Es Lilin Manuk Dadali Tokecang Warung Pojok.
3. Wayang Golek
Jepang boleh terkenal dengan ‘Boneka Jepangnya’, maka tanah Sunda terkenal dengan kesenian Wayang Golek-nya. Wayang Golek adalah pementasan sandiwara boneka yang terbuat dari kayu dan dimainkan oleh seorang sutradara merangkap pengisi suara yang disebut Dalang. Seorang Dalang memiliki keahlian dalam menirukan berbagai suara manusia. Seperti halnya Jaipong, pementasan Wayang Golek diiringi musik Degung lengkap dengan Sindennya. Wayang Golek biasanya dipentaskan pada acara hiburan, pesta pernikahan atau acara lainnya. Waktu pementasannya pun unik, yaitu pada malam hari (biasanya semalam suntuk) dimulai sekitar pukul 20.00 – 21.00 hingga pukul 04.00 pagi.
Cerita yang dibawakan berkisar pada pergulatan antara kebaikan dan kejahatan (tokoh baik melawan tokoh jahat). Ceritanya banyak diilhami oleh budaya Hindu dari India, seperti Ramayana atau Perang Baratayudha. Tokoh-tokoh dalam cerita mengambil nama-nama dari tanah India.Dalam Wayang Golek, ada ‘tokoh’ yang sangat dinantikan pementasannya yaitu kelompok yang dinamakan Purnakawan, seperti Dawala dan Cepot. Tokoh-tokoh ini digemari karena mereka merupakan tokoh yang selalu memerankan peran lucu (seperti pelawak) dan sering memancing gelak tawa penonton. Seorang Dalang yang pintar akan memainkan tokoh tersebut dengan variasi yang sangat menarik.
4. Alat Musik
a. CALUNG
Calung adalah alat musik Sunda yang merupakan prototipe dari angklung. Berbeda dengan angklung yang dimainkan dengan cara digoyangkan, cara menabuh calung adalah dengan mepukul batang (wilahan, bilah) dari ruas-ruas (tabung bambu) yang tersusun menurut titi laras (tangga nada) pentatonik (da-mi-na-ti-la). Jenis bambu untuk pembuatan calung kebanyakan dari awi wulung (bambu hitam), namun ada pula yang dibuat dari awi temen (bambu yang berwarna putih).
b. ANGKLUNG
Angklung adalah sebuah alat atau waditra kesenian yang terbuat dari bambu khusus yang ditemukan oleh Bapak Daeng Sutigna sekitar tahun 1938. Ketika awal penggunaannya angklung masih sebatas kepentingan kesenian lokal atau tradisional.

E. Melestarikan Kebudayaan Daerah
Indonesia dengan letak geografis sebagai negara kepulauan memiliki aneka ragam adat dan budaya daerah yang tersebar merata di seluruh tanah air. Bentuk geografis kepulauan ini di satu sisi juga perlu diwaspadai oleh para generasi muda akan pelestarian aneka ragam budayanya.
Bukan hal baru lagi bahwa telah sangat banyak budaya-budaya yang kita miliki perlahan-lahan diakui secara sepihak oleh negara tetangga. Dan kita sebagai rakyat Indonesia yang terkenal dengan sikap ramah tamah dan sopan santun, ternyata hanya bisa mengelus dada. Lagi-lagi kita tak dapat berkutik. Bahkan ketika pulau kita akhirnya jatuh ke negara tetangga, kita pun tak dapat berbuat banyak.
Ada beberapa hal konkrit yang dapat kita lakukan untuk mengantisipasi pencurian kebudayaan daerah Indonesia oleh negara tetangga, diantaranya:
1. Mengenali dan bangga akan budaya daerah
Penyakit masyarakat kita terkadang tidak bangga dengan produk dan budaya sendiri. Kita lebih bangga dengan budaya-budaya impor yang sebenarnya tidak sesuai dengan budaya kita sebagai orang Timur. Anak-anak kita bahkan terkadang tidak lagi mengenal aneka ragam budayanya.
Budaya daerah banyak yang hilang dikikis zaman oleh sebab kita sendiri yang tidak mau mempelajari dan melestarikannya. Alhasil kita baru bersuara ketika negara lainsukses dan terkenal dengan budaya yang mereka curi secara diam-diam dari kita.
Sebagai contoh; Anak-anak kecil zaman sekarang saat ditanya soal mainan, tentu mereka lebih memilih dunia playstation ketimbang mainan tradisional.
2. Kebijakan pemerintah
Bagaimanapun pemerintah memiliki peran yang cukup strategis dalam upaya pelestarian kebudayaan daerah di tanah air. Pemerintah harus mengimplementasikan kebijakan-kebijakan yang mengarah pada upaya pelestarian kebudayaan nasional.
Salah satu kebijakan pemerintah yang pantas didukung adalah penampilan kebudayaan-kebudayaan daerah di setiap even-even akbar nasional. Misalnya tari-tarian, lagu daerah, dan sebagainya.
Semua itu harus dilakukan sebagai upaya pengenalan kepada generasi muda, bahwa budaya yang ditampilkan itu adalah warisan dari leluhurnya. Bukan berasal dari negara tetangga.
Demikian juga upaya-upaya melalui jalur formal pendidikan. Masyarakat harus memahami dan mengetahui berbagai kebudayaan daerah yang kita miliki. Pemerintah juga dapat lebih memusatkan perhatian pada pendidikan muatan lokal kebudayaan daerah.



BAB III

HASIL
Interview dengan Subjek 1
Identitas Subjek 1
Nama : Saripah
Jenis Kelamin: Perempuan
Usia : 20 tahun
Pekerjaan : Mahasiswa

Interviewer : Apakah kedua orang tua anda berasal dari suku Sunda?
Interviewee : Ya
Interviewer : Dari daerah mana anda berasal?
Interviewee : Cigombong, Kabupaten Bogor
Interviewer : Di keluarga anda apakah dalam kehidupan sehari-hari menggunakan bahasa Sunda?
Interviewee : Ya, tapi kadang menggunakan bahasa Indonesia juga, campur-campurlah.
Interviewer : Lalu di lingkungan pertemanan, apakah anda sering menggunakan bahasa Sunda?
Interviewee : Ya, sering
Interviewer : Sesering apa anda menggunakan bahasa Sunda dalam kehidupan?
Interviewee : Untuk sekarang gak begitu sering, karena udah jarang pulang dan susah rasanya kalau bicara bahasa Sunda kalau gak ada partner
Interviewer : Memang anda sekarang tinggal dimana?
Interviewee : Di Depok, kebetulan kuliah di sini.
Inrterviewer : Ooh, Memangnya di sini anda tidak memakai bahasa Sunda dalam berbicara dengan teman anda?
Interviewee : Iya, karena teman-teman saya di sini rata-rata bukan orang Sunda dan biasanya juga kami berbicara dengan menggunakan bahasa gaul, hehehe
Interviewer : Apakah anda bangga menjadi orang Sunda?
Interviewee : Ya bangga dong
Interviewer : Sebutkan beberapa kesenian Sunda yang anda ketahui?
Inteviewee : Jaipong, angklung, debus, bodor, dan sisingaan
Interviewer : Apakah saat berbicara bahasa Indonesia anda menggunakan logat Sunda?
Interviewee : Ya, kata orang sih begitu, tapi gak tau pasti juga ya
Interviewer : Apakah anda memiliki tokoh / budayawan Sunda favorit?
Interviewee : Ya
Interviewer : Siapa?
Interviewee : Doel Sumbang penyanyi pop Sunda dan Asep Sunarya si “Dalang bodor”
Interviewer : Apakah anda pernah mempelajari kesenian Sunda, misalnya tarian, music dan lainnya?
Interviewee : Pernah
Interviewer : Kapan dan dimana anda mempelajari kesenian Sunda?
Interviewee : Di SMA, pas ujian praktek
Interviewer : Bagaimana upaya anda dalam melestarikan budaya anda pada saat ini?
Interviewee : Pelestarian budayanya mungkin baru sekedar berbicara pake bahasa Sunda aja, selebihnya belum ada. Haaa, satu lagi, memperkenalkan lagu daerah terutama pop Sunda Doel Sumbang ke teman-teman! Hehehehe
Interviewer : Menurut anda seberapa penting bahasa daerah anda?
Interviewee : Sangat penting
Interviewer : Apakah anda memahami
Interviewee : Ya, memahami tapi kurang fasih untuk bicara sama orang yang lebih tua, karna memang harus menggunakan bahasa Sunda lemes atau halus sama orang yang lebih tua
Interviewer : Berarti kurang fasih ya berbahasa Sunda lemes, kenapa?
Interviewee : Iya, karena bahasanya susah, jadi kurang berani dipraktekin karena takut salah. Kebetulan juga karena di Bogor orang-orangnya terkenal memakai bahasa Sunda agak kasar jadi ya terbiasa bicara pakai bahasa Sunda agak kasar.
Interviewer : Bisa tolong sebutkan contoh penggunaan bahasa Sunda yang anda ketahui?
Interviewee : Contohnya kata “makan” untuk orang tua / orang yang lebih tua jadi “tuang”, kalau sebaya jadi “emam”, untuk hewan jadi “nyatu”
Interviewer : Bagaimana anda mendapatkan pengetahuan tentang bahasa daerah anda?
Interviewee : Dari lingkungan rumah, sekolah, dan pergaulan sehari-hari
Interviewer : Kapan terakhir kali anda menggunakan bahasa Sunda dan dalam rangka apa?
Interviewee : Sewaktu pulang ke rumah kemarin. Kan di rumah pakai bahasa Sunda.
Interviewer : Apa kesenian Sunda yang paling berkesan bagi anda? Mengapa?
Interviewee : Tari Jaipong. Asli susah banget gerakan tariannya. Bisa menguasai gerakan seperenambelas lagu aja amazing banget bagi saya.
Interviewer : Menurut anda seberapa penting budaya daerah anda?
Interviewee : Pentinglah, bagi saya budaya Sunda itu ibarat lemak yang selalu nemplok di tulang, hehehehe
Interviewer : Menurut anda bagaimana pengaruh perkembangan zaman saat ini pada budaya anda (Sunda)?
Interviewee : Memprihatinkan! Masa sekarang semakin banyak remaja yang gak bisa bahasa Sunda
Interviewer : Menurut anda apa yang membuat bahasa Sunda tidak berkembang pada saat ini?
Interviewee : Mungkin pembelajaran dan pembiasaan untuk menggunakan bahasanya aja yang kurang
Interviewer : Apakah anda dan keluarga anda memiliki keinginan untuk mempertahankan kesenian Sunda?
Interviewee : Ada dong keinginan mempertahanin, caranya? Ya gunain bahasa Sunda di kehidupan sehari-hari. Toh, kalau terbiasa seperti itu nantinya kalau setiap bertemu orang Sunda lain di tempat atau daerah orang bisa bicara bahasa Sunda
Interviewer : Terakhir nih, fenomena apa sih yang biasa terjadi pada suku Sunda yang anda ketahui?
Interviewee : Kadang susah ngelepas anaknya ngerantau ke daerah yang jauh dari rumah kecuali jika ada kerabat terdekat di daerah tujuan


Interview Subjek 2
Identitas Subjek 2
Nama : Fitri Aprilinda
Jenis Kelamin: Perempuan
Usia : 20 tahun
Pekerjaan : Mahasiswa

Interviewer : Apakah kedua orang tua anda berasal dari suku Sunda ?
Interviewee : Iya
Interviewer : Dari daerah mana anda berasal ?
Interviewee : Kuningan, Jawa Barat
Interviewer : Di keluarga anda, apakah dalam kehidupan sehari-hari menggunakan bahasa Sunda ?
Interviewee : Iya, tapi campur-campur kadang menggunakan bahasa Indonesia
Interviewer : Lalu dilingkungan pertemanan, apakah anda sering menggunakan bahasa Sunda ?
Interviewee : Iya, tapi campur-campur juga dengan bahasa Indonesia
Interviewer : Sesering apa anda menggunakan bahasa Sunda dalam kehidupan ?
Interviewee : Setiap hari pasti selalu menggunakan bahasa Sunda walau hanya beberapa kata saja
Interviewer : Apakah anda bangga menjadi orang Sunda ?
Interviewee : Bangga sekali , hehehehe
Interviewer : Sebutkan beberapa kesenian Sunda yang anda ketahui ?
Interviewee : Tari jaipong, gamelan, alat musik suling, alat musik angklung
Interviewer : Apakah saat berbicara bahasa Indonesia anda menggunakan logat Sunda ?
Interviewee : iya, soalnya susah buat dihilangkan
Interviewer : Apakah anda memiliki tokoh/ budayawan Sunda favorit ?
Interviewee : Engga punya
Interviewer : Apakah anda pernah mempelajari kesenian suku Sunda (tari,musik,dll) ?
Interviewee : Iya,waktu sekolah TK, SMP dan SMA saya mempelajari tari jaipong, memainkan gamelan dan memainkan suling dan itu merupakan salah satu mata pelajaran yang wajib diikuti dan dipelajari
Interviewer : Bagaimana upaya anda dalam melestarikan budaya anda saat ini ?
Interviewee : Upaya saya adalah mengajak teman-teman untuk berbicara bahasa Sunda walau hanya beberapa kata saja
Interviewer : Menurut anda seberapa penting bahasa daerah anda bagi anda ?
Interviewee : Penting, karena itu merupakan ciri suku saya yang mana harus dilestarikan
Interviewer : Apakah anda memahami bahasa daerah Sunda ?
Interviewee : Iya, tapi ga semuanya karena di bahasa Sunda itu terdiri dari beberapa tingkat bahasa, ada bahasa lemas, bahasa sedang dan bahasa kasar , nah kebetulan di daerah saya rata-rata menggunakan bahasa lemas jadi hanya beberapa kata saja yang saya pahami
Interviewer : Jika iya, sebutkan contoh penggunaan bahasa Sunda yang anda ketahui ?
Interviewee : Lagi ngapain ? Nuju naon ?
Apakah kabar anda baik ? Kumaha damang ?
Apakah udah tahu belum ? Kumaha entos teu acan ?
Interviewer : Bagaimana anda mendapatkan pengetahuan tetntang bahasa daerah anda ?
Interviewee : Sejak sekolah dari mulai TK sampai SMA , di sekolah saya itu menjadikan pelajaran bahasa Sunda menjadi mata pelajaran yang wajib diikuti . Selain itu, di keluarga saya juga kadang membahas tentang beberapa pengetahuan Sunda, misalnya budayanya
Interviewer : Kapan terakhir kali anda menggunakan bahasa Sunda dan dalam rangka apa ?
Interviewee : Engga ada terakhir kali, soalnya hampir setiap hari saya menggunakan bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari saya walau hanya beberapa kata
Interviewer : Apakah kesenian Sunda yang paling berkesan bagi anda ?mengapa ?
Interviewee : Tari jaipong , karena saya sangat menyukai tari dan itu merupakan salah satu hobi saya
Interviewer : Menurut anda, seberapa penting budaya daerah anda bagi anda ?
Interviewee : Sepenting saya mempelajari bahasa Indonesia
Interviewer : Menurut anda bagaimana pengaruh perkembangan zaman saat ini pada budaya anda ( Sunda ) ?
Interviewee : Sangat mempengaruhi , apalagi saya merupakan anak perantauan ke daerah lain sehingga pengaruh daerah yang saya tempati sekarang sangat melekat apalagi bahasa yang menjadi wajar disini sudah hampir melekat di kehidupan sehari-hari saya
Interviewer : Menurut anda , apakah yang membuat bahasa Sunda tidak berkembang saat ini ?
Interviewee : Kurangnya sosialisasi ke masyarakat , apalagi adanya pengaruh bahasa dari daerah lain yang sedang berkembang di zaman sekarang. Kurangnya kesadaran di masing-masing orang sehingga masih berpikir kalau tidak menggunakan bahasa gaul maka tidak akan maju-maju
Interviewer : Apakah anda dan keluarga anda memiliki keinginan untuk mempertahankan kesenian sunda ?
Interviewee : Iya, dengan membudidayakan tarian jaipong dan nyanyian Sunda
Interviewer : Terakhir, fenomena apa sih yang biasa terjadi pada suku Sunda yang anda ketahui ?
Interviewee : Setiap tahun selalu ada acara seren tahun dan pada acara pernikahan antara pihak mempelai wanita dan pihak mempelai pria saling bertukar air dari rumahnya masing-masing untuk acara siraman



Hasil Analisis

Dari hasil wawancara terhadap subjek didapatkan bahwa kedua subjek masih menggunakan bahasa daerah (suku sunda), walaupun hanya dengan beberapa orang dan beberapa kata saja, yang dicampur dengan bahasa Indonesia di dalam kehidupan sehari-harinya.
Banyak faktor yang membuat subjek tidak menggunakan bahasa sunda, seperti jarang pulang ke rumah karena keperluan pendidikan di luar kota, banyak teman yang bukan dari suku yang sama, bahkan ada juga yang mengganggap bahasa Sunda itu sulit karena ada satu bagian di tingkatan bahasa yang sulit untuk dipahami dan dipelajari, sehingga membuat bahasa daerah (bahasa sunda) jarang digunakan.
Hal-hal yang membuat bahasa Sunda tidak berkembang saat ini antara lain adalah pembelajaran dan pembiasaan untuk menggunakan bahasa sunda yang masih kurang, kurangnya sosialisasi ke masyarakat, apalagi adanya pengaruh bahasa dari daerah lain yang sedang berkembang di zaman sekarang dan kurangnya kesadaran pada masing-masing orang sehingga masih berpikir kalau tidak menggunakan bahasa gaul maka tidak akan ada kemajuan. Selain itu subjek juga menyadari bahwa saat ini bahasa Sunda sudah jarang digunakan dalam kehidupan sehari-sehari walaupun usaha yang dilakukan untuk melestarikannya masih tergolong minim.Namun, salah satu jawaban subjek yang menjelaskan bahwa bahasa sunda menjadi mata pelajaran wajib di sekolahnya, membuktikan kepada kami bahwa pemerintah pun tetap memperhatikan pelestarian budaya daerah (khususnya sunda).
Selain mengenai bahasa, pengetahuan mengenai kesenian dari suku sunda sudah cukup diketahui / dikenali oleh subjek, seperti tari jaipong, gamelan, alat musik suling, serta alat musik angklung.


BAB IV
KESIMPULAN

Usaha dan kesadaran masyarakat keturunan sunda untuk melestarikan kebudayaannya masih sangat minim, bila terus di didiamkan akan membuat kebudayaan dan juga bahasa daerah mereka hilang secara perlahan-lahan. Kesadaran dari pemerintah untuk menetapkan bahwa mata pelajaran bahasa Sunda menjadi mata pelajaran yang wajib ada pada masa sekolah TK sampai SMA, harusnya juga dapat didukung oleh masyarakat keturunan Sunda, bila saat ini pendidikan tentang kebudayaan hanya ada pada masa sekolah saja, sebaiknya lebih dimaksimalkan juga pada seluruh golongan umur, menggalakkan pelestarian budaya, membuat sanggar kebudayaan, dan juga perlombaan seperti pemilihan duta daerah, meskipun bogor sudah menerapkannya, sebaiknya diterapkan pada daerah lain yang juga masih masuk dalam daerah dan kebudayaan Jawa Barat. Untuk itu dorongan pemerintah dan masyarakat keturunan sunda pun sangat diperlukan untuk melestarikan kebudayaan sunda, agar generasi berikutnya tetap dapat mengenal dan melestarikan kebudayaan secara turun temurun dan tidak hlang karena bercampur dengan kebudayaan lain.





DAFTAR PUSTAKA

Aditya, Rizky.(2011).Sekilas Budaya Sunda. Diunduh dari http://rizkyaditya23.blogspot.com.Pada tanggal 27 November 2011.
Dixon, Roger L.(2000).Sejarah Suku Sunda.Diunduh dari http://sabda.org.Pada tanggal 27 November 2011.
Janti, Ervina Dyah Kumala.(2011) Calung.Diunduh dari http://www.kidnesia.com. Pada tanggal 27 November 2011.
Kurnia, Iwan.(2007).Budaya Sunda. Diunduh dari http://id.wikipedia.org.Pada tanggal 27 November 2011.
Lia.(2009).Teori Pengetahuan.Diunduh dari http://bidanlia.blogspot.com.Pada tanggal 27 Nivember 2011.
Nadar, Karthik.(2011).Suku Sunda.Diunduh dari http://id.wikipedia.org.Padatanggal 27 November 2011.
Nadar, Karthik.(2011).Bahasa Sunda.Diunduh dari http://id.wikipedia.org.Pada tanggal 27 November 2011.
Nadar, Karthik.(2011).Wayang.Diunduh dari http://su.wikipedia.org.Pada tanggal 27 November 2011.
NN.(2008).Suku Sunda.Diunduh dari http://ragambudayanusantara.blogspot.com.Padatanggal 27 November 2011.
Santoso, Romanita.(1999).Tari Merak.Diunduh dari http://www.bvgnet.nl/meraenst.html. Pada tanggal 27 November 2011.
Seuratnana.(2010).Tari Topeng.Diunduh dari http://seuratnana.wordpress.com.Pada tanggal 27 November 2011.
Sobarna, Cece.(2002).Bahasa Sunda.Diunduh dari http://journal.ui.ac.id.Padatanggal 27 November 2011.
Willyanto, R.(2011).Kesenian.Diunduh dari http://members.tripod.com. Pada tanggal 27 November 2011.


LAMPIRAN
1. Seni Tari
a. Tari Jaipong
b. Tari Merak
c. Tari Topeng

2. Wayang Golek

3. Alat Musik
a. Calung
b. Angklung

4. Rumah adat Sunda


Pertanyaan wawancara

1. Apakah Anda berasal dari suku Sunda?
2. Jika iya, apa yang Anda ketahui tentang suku Sunda?
3. Bagaimana upaya anda dalam melestarikan budaya anda saat ini?
4. Menurut Anda, seberapa penting bahasa daerah Anda?
5. Apakah anda memahami bahasa daerah Sunda?
6. Jika iya, sebutkan contoh penggunaan bahasa sunda yang anda ketahui!
7. Bagaimana Anda mendapatkan pengetahuan tentang bahasa daerah Anda?
8. Kapan Terakhir kali Anda menggunakan bahasa Sunda?dan dalam rangka apa?
9. Apakah Anda mengetahui Kesenian pada Budaya Sunda?
10. Jika, iya, sebutkan kesenian apa saja yang ada dalam budaya Sunda!
11. Apakah kesenian sunda yang paling berkesan bagi Anda?mengapa?
12. Darimana anda mengetahui pengetahuan tentang kesenian Sunda?

Rabu, 07 Desember 2011

LAPORAN PERKEMBANGAN PSIKOLOGI LINTAS BUDAYA

Nama Anggota :1. Ade Irma Suryani ( 10509440 )
2. Andita Guska Setia Reni ( 16509082 )
3. Herlinda Wongso (11509462 )
4. Rizky Septiani ( 16509494 )
5. Yurika Purnama Sari (13509575 )
KELAS : 3 PA 01

Suku : Sunda ( Jawa Barat )
Tema : Mengenai Budaya
“Meningkatkan Pengetahuan Bahasa dan Kesenian Untuk Melestarikan Kebudayaan Daerah”
Tugas : Andita Guska Setia Reni (Menyusun latar belakang dan menjadi interviewer pada saat interview nanti)

Kelompok saya telah mengerjakan tugas yang Ibu berikan sampai pada tahap awal atau tahap pendahuluan yaitu pada bab I dan tahap pembahasan sedang dalam proses penyusunan. Tahap pendahuluan yang kelompok saya kerjakan seperti bagian latar belakang masalah, fenomena yang terjadi pada masyarakat yang sesuai dengan tema kelompok saya, tujuan penelitian, sedangkan tahap pembahasan yaitu tinjauan pustaka masih dalam proses penyelesaian. Kelompok saya juga telah mendapat subjek sebanyak dua orang yang akan kami wawancara.
Kesulitan yang saya dan kelompok saya rasakan untuk mengerjakan tugas ini awalnya adalah pemilihan suku, sebelum tahap pemilihan suku saya melakukan diskusi dengan kelompok saya, untuk mencari terlebih dahulu subjek yang akan diwawancara. Agar nantinya saya dan kelompok saya tidak kesulitan lagi dalam mencari subjek seperti masalah yang biasa saya dan kelompok saya alami, menentukan suku terdahulu tapi kemudian subjek sulit ditemukan . Kesulitan lain adalah mengenai pengambilan tema. Saya dan kelompok kembali berdiskusi mengenai hal ini. Lalu saya dan kelompok memutuskan lebih mudah untuk mengumpulkan data-datanya dan mengambil tema mengenai budaya, karena budaya mencirikan suatu daerah sehingga lebih mudah untuk pengambilan datanya. Serta mencari fenomena apa yang terjadi pada masyarakat khususnya suku sunda ( Jawa Barat ) yang kami pilih.
Kesulitan terakhir adalah saya dan kelompok mengalami sedikit kesulitan mengenai tinjauan pustaka yang dapat saya gunakan sesuai dengan tema yang kami pilih.
Kekurangan sampai pada saat yang diatas adalah saya dan kelompok masih mencari dan mengumpulkan data-data mengenai tinjauan pustaka yang dapat digunakan sesuai dengan tema yang saya dan kelompok pilih.

Selasa, 04 Oktober 2011

Kebudayaan Indis

Materi : ke 1 & 2

Nama kelompok :

1. ADE IRMA SURYANI ( 10509440 )

2. ANDITA GUSKA SETIA RENI ( 16509082 )

3. DANIEL ( 11509024 )

4. HERLINDA WONGSO ( 11509462 )

3. RIZKY SEPTIANI ( 16509494 )

4. YURIKA PURNAMA SARI ( 13509575 )

Mata Kuliah : Psikologi Lintas Budaya

KEBUDAYAAN INDIS

Pendahuluan

Kehadiran orang Belanda ke kepulauan Indonesia yang bermula hanya untuk berdagang lalu kemudian menjadi penguasa di Indonesia sangat mempengaruhi kebudayaan serta gaya hidup orang Indonesia (khususnya masyarakat jawa). Munculnya kebudayaan Indis adalah kebudayaan baru dari sekelompok masyarakat keturunan Eropa dan pribumi. Berkembangnya kebudayaan ini pada jaman itu awalnya didukung oleh kebiasaan hidup membujang para pejabat Belanda serta larangan membawa istri dan perempuan Belanda ke Hindia Belanda, hal ini mendorong lelaki Belanda menikahi pendududk setempat. Maka, terjadilah pencampuran darah yang melahirkan anak-anak campuran, serta menumbuhkan budaya dan gaya hidup Belanda-Pribumi yang disebut gaya indis. Tidak hanya gaya hidup dan budaya yang tercampur oleh budaya Belanda namun bentuk rumah, bahasa, perlengkapan hidup, mata pencarian, kesenian dan juga religi yang termasuk dalam tujuh unsur kebudayaan Belanda.



Tinjauan Teori

Teori yang berhubungan dengan isi buku :

1. Adanya stratifikasi sosial yang merupakan pembedaan atau pengelompokan para anggota masyarakat secara vertikal/ bertingkat. Dalam kehidupan masyarakat terdapat kriteria yang dipakai untuk menggolongkan orang dalam pelapisan sosial adalah sebagai berikut :

• Ukuran kekayaan, seseorang yang memiliki kekayaan paling banyak, ia akan menempati pelapisan di atas. Kekayaan tersebut misalnya dapat dilihat dari bentuk rumah, mobil pribadinya, cara berpakaian serta jenis bahan yang dipakai, kebiasaan atau cara berbelanja dan seterusnya.

• Ukuran kekuasaan, seseorang yang memiliki kekuasaan atau yang mempunyai wewenang terbesar akan menempati pelapisan yang tinggi dalam pelapisan social masyarakat yang bersangkutan.

• Ukuran kehormatan, orang yang disegani dan dihormati akan mendapat tempat atas dalam sistem pelapisan sosial. Ukuran semacam ini biasanya dijumpai pada masyarakat yang masih tradisional. Misalnya, orangtua atau orang yang dianggap berjasa dalam masyarakat atau kelompoknya. Ukuran kehormatan biasanya lepas dari ukuran-ukuran kekayaan dan kekuasaan.

• Ukuran ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan digunakan sebagai salah satu faktor atau dasar pembentukan pelapisan sosial di dalam masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan.

Pada budaya ini, adanya golongan kebangsaan pada jaman itu, kami kaitkan dengan Teori Konflik Karl Marx (1818- 1883). Teori konflik Karl Marx didasarkan pada pemilikan sarana- sarana produksi sebagai unsur pokok pemisahan kelas dalam masyarakat. Marx mengajukan konsepsi mendasar tentang masyarakat kelas dan perjuangannya. Marx tidak mendefinisikan kelas secara panjang lebar tetapi ia menunjukkan bahwa dalam masyarakat, pada abad ke- 19 di Eropa di mana dia hidup, terdiri dari kelas pemilik modal (borjuis) dan kelas pekerja miskin sebagai kelas proletar. Kedua kelas ini berada dalam suatu struktur sosial hirarkis, kaum borjuis melakukan eksploitasi terhadap kaum proletar dalam proses produksi.. Eksploitasi ini akan terus berjalan selama kesadaran semu eksis (false consiousness) dalam diri proletar, yaitu berupa rasa menyerah diri, menerima keadaan apa adanya tetap terjaga.

Dilihat dari gaya hidup masyarakat pendukung kebudayaan indis yang memiliki kehidupan sosial dan ekonomi yang rata-rata lebih baik dibandingkan kehidupan masyarakat pribumi, dan juga pekerjaan yang lebih baik dibanding masyarakat pribumi pada umumnya, cukup menjelaskan bahwa pada jaman itu juga ada eksploitasi terhadap orang pribumi oleh orang keturunan.

2. Adanya Akulturasi Kebudayaan

Akulturasi adalah suatu proses sosial, yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri. Atau bisa juga di definisikan sebagai perpaduan antara kebudayaan yang berbeda yang berlangsung dengan damai dan serasi.

Di bawah ini beberapa faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya suatu proses Akulturasi. Diantaranya:

Faktor Intern (dalam), antara lain:

• Bertambah dan berkurangnya penduduk (kelahiran, kematian, migrasi)

• Adanya Penemuan Baru:

1. Discovery: penemuan ide atau alat baru yang sebelumnya belum pernah ada

2. Invention : penyempurnaan penemuan baru

3. Innovation /Inovasi: pembaruan atau penemuan baru yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat sehingga menambah, melengkapi atau mengganti yang telah ada. Penemuan baru didorong oleh : kesadaran masyarakat akan kekurangan unsure dalam kehidupannya, kualitas ahli atau anggota masyarakat

• Konflik yang terjadii dalam masyarakat

• Pemberontakan atau revolusi

Faktor Ekstern (luar), antara lain:

1. Perubahan alam

2. Peperangan

3. Pengaruh kebudayaan lain melalui difusi(penyebaran kebudayaan), akulturasi ( pembauran antar budaya yang masih terlihat masing-masing sifat khasnya), asimilasi (pembauran antar budaya yang menghasilkan budaya yang sama sekali baru batas budaya lama tidak tampak lagi).

Teori diatas dapat dikaitkan dengan kebudayaan Indis dibawah ini:

- Reflector menganjurkan pula hendaknya jangan bersikap memiliki sentiment dan menolak menggunakan unsur-unsur budaya bangsa Pribumi. Apabila perlu, setidak-tidaknya mereka bias mengawinkan dua unsur sebagai usaha baru dalam penciptaan.

- Adanya kelompok pakar ahli bangunan di Hindia Belanda yang menginginkan penggunaan unsur budaya tradisional jawa dalam penciptaan seni bangunan di Eropa.

- Kelompok pertama, mengutamakan pemindahan dari negeri ibu (Belanda), yang menghendaki seni bangunan (nasional Belanda) diberlakukan di daerah koloni, khususnya jawa. Alasannya ialah kemajuan teknik bangunan tidak mudah untuk diduga sebelumnya.

- Kelompok kedua, adanya pertimbangan politik, mereka lebih mengharapkan adanya peralihan ke seni jawa yang dapat menuju ke seni Indo-Eropa, yaitu apabila nantinya Hindia Belanda telah dapat berdiri sendiri.

Kalimat diatas menggambarkan bahwa terjadi perpaduan antara unsur kebudayaan yang berbeda antara unsur Jawa dan unsur Eropa tanpa menghilangkan unsur dari masing-masing kebudayaan yang ada.

Pembahasan

Awal terbentuknya kebudayaan Indis

Penjajahan Belanda pada kurun abad XVIII hingga abad XX tak hanya melahirkan kekerasan, tapi juga memicu proses pembentukan kebudayaan khas, yakni kebudayaan dan gaya hidup Indis. Budaya percampuran budaya Barat dan unsur-unsur budaya Timur. Jauh sebelum kedatangan bangsa Belanda di kepulauan Indonesia, di Pulau Jawa telah ada pendatang asal India, Cina, Arab, dan Portugis. Mula-mula orang-orang Belanda itu hanya datang untuk berdagang, tapi belakangan malah menjadi penguasa.Pada awalnya, mereka membangun gudang-gudang untuk menimbun rempah-rempah di Banten, Jepara, dan Jayakarta. Dengan modal kuat Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) mendirikan gudang penyimpanan dan kantor dagang. Sekelilingnya diperkuat benteng pertahanan, lalu sekaligus digunakan sebagai tempat tinggal.

Benteng semacam ini menjadi hunian pada masa-masa awal orang Belanda di Pulau Jawa. Segala kesibukan perdagangan dan kehidupan sehari-hari berpusat di benteng semacam ini. Gubernur Jenderal Valckenier (1737 – 1741) adalah pejabat tertinggi terakhir yang tinggal dalam benteng. Sesudah itu, para gubernur jenderal penggantinya tinggal di luar benteng. Bahkan setelah keadaan di luar kota aman, secara bertahap mereka berani bertempat tinggal dan membangun rumah di luar tembok kota. Pos-pos penjagaan dengan benteng-benteng kecilnya didirikan di Ancol, Jacatra, Rijswijk, Noordwijk, Vijfhoek, dan Angke.

Di samping itu para pejabat tinggi VOC membangun rumah-rumah peristirahatan dan taman yang luas, yang lazim disebut landhuis dengan patron Belanda dari abad XVIII. Ciri-ciri awalnya masih dekat sekali dengan bangunan yang ada di Belanda. Secara pelahan mereka membangun rumah bercorak peralihan pada abad XVIII antara lain di Japan, Citrap, dan Pondok Gede. Cirinya bilik-bilik berukuran luas dan banyak. Ini menunjukkan bangunan landhuis dihuni oleh keluarga beranggota banyak yang terdiri atas keluarga inti, dengan puluhan bahkan ratusan budaknya.

Gaya hidup semacam di landhuizen itu tidak dikenal di negeri Belanda. Lama-kelamaan kota-kota pionir macam Batavia, Surabaya, dan Semarang yang terletak di hilir sungai dianggap kurang sehat karena dibangun di atas bekas rawa-rawa. Mereka kemudian memindahkan tempat tinggalnya ke permukiman baru di daerah pedalaman Jawa, yang dianggap lebih baik dan sehat. Di sini mereka mendirikan rumah tempat tinggal dan kelengkapannya yang disesuaikan dengan kondisi alam dan kehidupan sekeliling dengan mengambil unsur budaya setempat. Pertumbuhan budaya baru ini pada awalnya didukung oleh kebiasaan hidup membujang para pejabat Belanda. Larangan membawa istri (kecuali pejabat tinggi) dan mendatangkan wanita Belanda ke Hindia Belanda memacu terjadinya percampuran darah yang melahirkan anak-anak campuran dan menumbuhkan budaya dan gaya hidup Belanda-Pribumi, atau gaya Indis.Kata “Indis” berasal dari bahasa Belanda Nederlandsch Indie atau Hindia Belanda, yaitu nama daerah jajahan Belanda di seberang lautan yang secara geografis meliputi jajahan di kepulauan yang disebut Nederlandsch Oost Indie, untuk membedakan dengan sebuah wilayah jajahan lain yang disebut Nederlandsch West Indie, yang meliputi wilayah Suriname dan Curascao. Konsep Indis di sini hanya terbatas pada ruang lingkup di daerah kebudayaan Jawa, yaitu tempat khusus bertemunya kebudayaan Eropa (Belanda) dengan Jawa sejak abad XVIII sampai medio abad XX. Kehadiran bangsa Belanda sebagai penguasa di Pulau Jawa menyebabkan pertemuan dua kebudayaan yang jauh berbeda itu makin kental. Kebudayaan Eropa (Belanda) dan Timur (Jawa), yang berbeda etnik dan struktur sosial membaur jadi satu.Golongan masyarakat atas adalah pendukung utama kebudayaan Indis. Dalam membangun rumah tempat tinggal gaya Indis, golongan pengusaha atau pedagang berperan cukup besar, misalnya mereka yang tinggal di Laweyan (Surakarta), dan Kotagede (Yogyakarta). Pada masa VOC, secara garis besar struktur masyarakat dibedakan atas beberapa kelompok. Masyarakat utama disebut signores, kemudian keturunannya disebut sinyo. Yang langsung merupakan keturunan Belanda dengan pribumi “grad satu” disebut liplap, sedang “grad kedua” disebut grobiak, dan “grad ketiga” disebut kasoedik. Liplap biasanya menjadi pedagang atau pengusaha, yang sangat disukai menjadi pedagang budak karena mendapat untung banyak. Ada pun grobiak kebanyakan menjadi pelaut, nelayan, dan tentara, sedangkan kasoedik mata pencariannya menjadi pemburu dan nelayan.

Kelengkapan hidup pada kebudayaan Indis

a.Rumah tempat tinggal

Pada mulanya bangunan dari orang-orang Belanda di Indonesia khususnya di Jawa, bertolak dari arsitektur kolonial yang disesuaikan dengan kondisi tropis dan lingkungan budaya. Sebutannya landhuiz, yaitu hasil perkembangan rumah tradisional Hindu-Jawa yang diubah dengan penggunaan teknik, material batu, besi, dan genteng atau seng. Arsitek landhuizen yang terkenal saat itu antara lain Wolff Schoemaker, DW Berrety, dan Cardeel.Dalam membuat peraturan tentang bangunan gedung perkantoran dan rumah kedinasan Pemerintah Belanda memakai istilah Indische Huizen atau Indo Europeesche Bouwkunst. Hal ini mungkin dikarenakan bentuk bangunan yang tidak lagi murni bergaya Eropa, tetapi sudah bercampur dengan rumah adat Indonesia.

b. Pakaian dan kelengkapan

cirri lain gaya hidup pada zaman itu banyak dipengaruhi oleh gaya Eropa ialah tata busana . Karena pengaruh para pembantu rumah tangga dan para nyai, kaum perempuan indis mengenakan kain sarung dan kebaya. Kain dan kebaya juga dikenakan untuk pakaian sehari-hari oleh para perempuan eropa . Sedangkan para pria eropa mengenakan sarung dan baju takwo atau pakain tidur motif batik.

c. Alat berkarya dan berproduksi

Belanda mengenalkan kepada penduduk Pribumi berbagai alat untuk berkarya atau alat-alat yang dapat digunakan untuk memudahkan kehidupan misalkan : mesin jahit , lampu gantung , lampu gas , kereta tunggang yang disebut dosdos atau sado.

d. Kelengkapan alat dapur dan jenis makanan

Di negri belanda sampai sekarang banyak rumah makan yang menyediakan berbagai jenis menu Indis Tempo doloe dengan memasang papan nama yang bertuliskan “Indische Restaurant”. Banyak keluarga belanda , khususnya anak keturunan yang pernah tinggal atau datang dari Indonesia menghidangkan menu indische rijsttafel. Hidangan ini terdiri dari nasi soto ,nasi goreng , nasi rames , gado-gado,lumpia dan sebagainya. Sementara itu di Indonesia masyarakat indis termasuk priyai jawa menghidangkan makanan keluarg a dengan menu campuran eropa dan jawa misalnya : beafstuk , resoulles , soep .

PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN

Pada masyarakat jawa orang muda wajib mengikuti adat istiadat dan kebiasaan orang tua mereka karena orang tua dianggap memiliki lebih banyak pengalaman . Dengan demikian proses belajar dan penyampaian pengetahuan serta nilai-nilai secara turun temurun , dari mulut ke mulut berperan sangat penting. Banyak peraturan dan kaidah-kaidah dalam masyarakat tradisional masih bercorak kaidah kesusilaan , kepercayaan , dan keagamaan . Adanya kiadah-kaidah tersebut membuat orang takut tertimpa akibat dunia maupun akhirat apabila melakukan pelanggaran . Proses pendidikan tradisional jawa yang semula berfungsi sebagai pelestarian budaya dan kesinambungan generasi , telah melunak pada masyarakat indis. Banyak unsure budaya jawa mempengaruhi anak-anak keturunan eropa dan sebaliknya pengaruh unsure kebudayaan eropa pada anak-anak priyai. Pada priyai pertama-tama menuntut kemajuan pada putranya dengan pendidikan modern , dengan maksut mereka dapat menduduki posisi jabatan dalam administrasi pemerintahan hindia belanda , suatu profesi yang terpandang dalam masyarakat Jawa .Pada system pendidikan menggunakan pendekatan buadaya setempat , di samping system pengenalan dan pendidikan gaya barat , memperekaya dan memperluas wawasan para siswa . Semua itu tidak mengubah sendi-sendi budaya jawa . misalnya dalam cara : berpakaian , bahasa , logika , materi bacaan , menulis dan berhitung yang pengajarannya di lakukan oleh guru-guru pribumi . Pendekatan dan pengenalan budaya barat tampak dalam cara berfikir dan agama .









RELIGI

Proses penyebaran agama katolik di Jawa di lakukan dengan berbagai cara , seperti mendirikan prasarana pendidikan , kesehatan peribadatan , memberikan bantuan social , serta melakukan sinkretisme dengan kebudayaan , kesenian dan agama setempat . Sinkretisme agama ini kemudian diimplementasikn dengan istilah lokalisasi , pembrimubian teologi , kontekstualisasi , dan inkulturasi . Robert J . Schreiter , C.P.P.S membedakan jenis sinkretisme dalam 3 kelompok : (1) sinkretisme agama Kristen dengan agama kepercayaan local , (2) sinkrtisme percampuran unsur-unsur bukan Kristen (3) system keagamaan yang bersifat selektif dalam memasukkan unsur-unsur Kristen , secara inplisit maupun eksplisit , sinkretisme berkaitan dengan usaha pencampuran unsure-unsur dari dua system keagamaan sampai satu titik perpaduan . Keberhasilan sinkretisme mengakibatkan gereja Kristen di Jawa di jadikan ajang kebudayaan jawa yang hendak mengadakan sosialisasi budaya dan agama . Gereja mempertahankan budaya local jawa , antara lain menggunakan gamelan untuk mengiringi upacara-upacara keagamaan , kidung-kidung jawa , figure-figur raja jawa dalam pewayangan dalam berbagai atributnya yang di padukan figure-figur keagamaan nasrani sebagai penggambaran visual tokoh suci agama nasrani .Keberhasilan enkulturasi tidak hanya berdampak pada munculnya kestabilan ideology , politik dan social , sejalan dalam kondisi zaman penjajahan .

Kehidupan Keluarga Sehari-hari di dalam Rumah

Suatu kebiasaan yang umum dilakukan bangsa Pribumi Jawa pada pagi hari adalah pergi ke kali. Sudah sejak lama keluarga keturunan Belanda membuat tempat untuk mandi (badhuisje) di tepi sungai. Kamar mandi yang terletak di dalam rumah sudah dikenal orang pada 1870, tentu saja masih bentuk sederhana. Kelengkapan tempat mandi juga terdapat di landhuizen milik para pejabat tinggi pemerintah. Orang yang lahir di Belanda sebenarnya membenci kebiasaan mandi setiap hari. Hal demikian itu juga berlaku bagi bangsa Portugis, termasuk juga perempuannya, khususnya para nona. Untuk menggantikan mandi mereka lebih senang mengenakan pakaian dalam yang tipis. Pada 1753 orang masih memberitakan kebiasaan seperti itu dengan menyebutkan wassen (mandi) untuk menjadikan tubuh segar.

Sebagai kebiasaan pagi setelah bangun tidur, suami-isteri para pejabat VOC duduk-duduk di serambi belakang sambil minum kopi atau teh dengan masih mengenakan pakaian tidur. Laki-laki mengenakan baju takwo dengan celana atau sarung batik. Perempuannya mengenakan sarung batik dan baju tipis warna putih berhiaskan renda putih. Kain batik yang sangat disukai adalah kain batik pekalongan. Menyambut tamu dengan hidangan mewah dan pesiar mengelilingi taman dan kebun juga dilakukan para pembesar Kolonial.

Daur Hidup dan Gaya Hidup Mewah

Daur hidup atau life cycle adalah suatu rangkayan dalam perkembangan kehidupan seseorang untuk kembali ke status aslinya dari satu tingkat ke tingkat berikutnya. Ada tiga peristiwa penting dalam daur kehidupan manusia, yaitu kelahiran, perkawinan, dan kematian. Ketiga upacara itu memiliki tujuan masing-masing. Upacara kelahiran dilangsungkan untuk menyambut kehadiran angota baru dalam suatu keluarga. Seluruh anggota keluarga berharap si upik selalu dalam keadaan sehat dan selamat. Upacara perkawinan diselenggarakan dengan mewah dengan harapan perkawinan yang baru dijalani kedua mempelai berlangsung penuh keselamatan. Upacara perkawinan lazimnya memerlukan biaya besar bagi terselenggarakannya perhelatan. Pada masa kejayaan VOC dan hindia Belanda justru peristiwa kematian yang mendapatkan perhatian istimewa. Kematian biasa diiringi berbagai upacara mewah dan memerlukan biaya yang sangat besar.

1. Upacara Kelahiran

Kelahiran anggota baru dalam keluarga lazim di rayakan dengan berbagai upacara. Sebelum melahirkan, keluarga Indis yang mampu sudah menyiapkan baju kanak-kanak, ranjang untuk si bayi, kelengkapan persalinan dan ruang tidur untuk si Upik. Upacara penting setelah kelahiran adalah pemberian nama dan upacara pembaptisan di gereja. Upacara-upacara untuk menyongsong kelahiran anak tidak terlalu banyak menelan biaya.

2. Upacara Pernikahan

Kemewahan upacara perkawinan ditentukan oleh kekayaan, tingkat jabatan, serta keberuntungan kedua calon pengantin dan orang tua pengantin. Upacara yang berlangsung semasa VOC dan pemerintahan hindia belanda berbeda dari waktu ke waktu. Paling bergengsi apabila upacara perkawinan diadakan pada Minggu sesudah upacara kebaktian gereja, pada masa kemudian yang dianggap bagus adalah waktu tengah hari. Pada akhir abad ke-18, upacara tidak diadakan di gereja, tetapi mereka mengundang pendeta ke rumah pengantin perempuan. Hal ini juga menambah gengsi tuan rumah dan pendeta karena Bapak Pendeta menyampaikan pemberkatan perkawinan di depan para tamu agung. Para tamu hadir dengan berpakaian bagus-bagus dan mahal.

3. Upacara Kematian

Upacara kematian diselenggarakan dengan mewah dan menelan biaya sangat besar. Upacara kematian untuk pejabat VOC atau pemerintahan Hindia Belanda memerlukan pengerahan banyak tenaga dan pemikiran berbagai pihak. Pengerahan banyak dilakukan oleh banyak pihak, mulai dari keluarga, rohaniawan, pejabat sipil, militer, sampai serdadu dan pemikul peti jenazah atau penggali kubur. Pada masa kejayaan VOC dan pemerintahan Hindia Belanda, uapacara yang berhubungan dengan kematian seorang pejabat tinggi justru merupakan ajang akan pamer kemewahan, kebesaran dan kemegahan. Bagi masyarakat Batavia, upacara kematian adalah upacara yang penuh gengsi dan kemegahan di samping sebagai momentum keakraban.

Mengamati seni bangunan rumah dan hasil karya seni

Melalui karya seni lukis, foto gravir, relief, dan karya sastra, kini orang dapat mengetahui hasil seni bangunan rumah dan perabotan milik bangsa Belanda dan anak keturunannya di Indonesia. Biasanya pada lukisan hasil seniman belanda tercantum keterangan tertulis dari si seniman. Karya tulis dengan tambahan tulisan itu memperjelas berita tentang kehidupan dan gaya hidup masyarakat pada jamannya. Dalam seni lukis abad ke- 17 s/d 19, sedikit sekali kemungkinan para pelukis memalsukan objek yang dilukis. Pendapat ini disertakan beberapa alasan.

Pertama, para pelukis naturalis yang hidup pada abad ke-17 s/d 19 adalah pengikut yang terpengaruh oleh gaya periode Renaisans dan Barok. Pada masa itu “naturalisme” dan “akademisme” hidup dengan subur dikalangan seniman lukis Eropa. Dengan demikian didalam lukisan seniman-seniman Belanda pada jaman ini besar sekali kemungkinannya bahwa apa yang dilukis benar-benar ada dan tepat sesuai dengan bangunan serta keadaan pada waktu itu. Pelukis Belanda waktu itu mewujudkan karya lukisannya secara alami, didasarkan dari apa yang mereka lihat tanpa sedikitpun mengerjakan pengaruh pengaruh dari jiwanya.

Pelukis-pelukis Belanda pada jaman itu adalah, Johannes Oliver, Roorda Eysinga, Willebrands, J.Rach dan pelukis terbagus pada abad ke 17 adalah Jacob Janson Coeman.

Pola pemukiman masyarakat Indis di kota, Provinsi, dan Kabupaten

Budaya indis yang berkembang pada abad ke-18 s/d 19 dan berpusat ditanah-tanah partikelir (particuliere-landerijen) dan dilingkungan Indische landzhuichen. Pada permulaan abad ke-20 kebudayaan ini bergeser ke arah urban life seiring dengan hilangnya pusat-pusat kehidupan tersebut.

Sesuai dengan perkembangan ekonomi, pengajaran, dan pendidikan pada abad ke-19, jumlah gedung sekolah semakin banyak. Kehadiran para pejabat pemerinyah kolonial, baik yang berbangsa Belanda maupun Pribumi (priyayi), menyebabkan gambaran relief pola kota lebih berkembang. Pola pemukiman kota menunjukan secara jelas cerminan adanya pluralisme masyarakat, yang juga menunjukan stratifikasi sosial masyarakat kolonial Hindia Belanda. Pengelompokan permukiman berdasarkan warna kulit dan suku bangsa makin mencolok.

Contohnya, di Pasuruan, orang-orang cina tinggal di Pecinan sementara Pribumi tinggal dikampung-kampung yang berpenduduk padat.

Maclaine Pont berpendapat bahwa pada awal abad ke 20 bangunan kota-kota di pulau jawasudah banyak menerima pengaruh seni bangunan Belanda. Permukiman dan tempat tinggal penduduk di Kepulauan Hindia Belanda terbagi sesuai dengan golongan dan kebangsaannya. Ada empat golongan kebangsaan, yaitu :

1. anak negri atau bangsa pribumi

2. orang yang disamakan dengan anak negri (sesuai dengan sjart pemerintah Hindia Belanda pasal 109), seperti; orang cina, arab, koja, keling, mereka dinamakan “orang asing dibawah angin” untuk tinggal menetap mereka harus mendapat izin dari gubernur jenderal.

3. orang Eropa

4. orang yang disamakan dengan bangsa Eropa

Tata pemukiman penduduk kota pada abad ke-19 di jawa menunjukan secara jelas tentang adanya macam-macam golongan masyarakat kolonial. Pertama, dibagian kota tertentu terdapat kompleks perumahan tembok berhalaman luas dengan bangunan beratap tinggi. Ini adalah pemukiman golongan Eropa atau golongan elit pribumi. Kedua pecinan umumnya merupakan kelompok bangunan padat penduduk dan rapat satu sama lain, rumahnya beratapkan pelana lengkung, bagian mukan rumah dipakai untuk berjualan, usaha pertokoan atau pelayanan lain. Lazimnya kompleks pecinan terletak ditepi pasar kota di tepi jalan raya. Ketiga, kampung adalah tempat tinggal khusus bagi golongan pribumi, basanya rumahnya beratap pelana dari ijuk, daun rumbia sejenis palem, dan genting yang pada abad ke-19 jumlahnya masih sedikit.

Rendahnya perhatian pemerintah Hidia Belanda pada pemukiman bangsa pribumi sampai dengan awal abad ke-20 dapat kita ketahui dari tulisan dan keluhan Tillema berjudul Kromo Belanda sebanyak lima jilid. Ia seorang apoteker dan anggota Geemente Raad di semarang. Tillema menunujukan keadaan permukiman bangsa pribumi yang sangant buruk dan mengakibatkan timbulnya berbagai penyakit yang meminta korban ribuan penduduk setiap tahun. Tillema mengharapkan perhatian pemerintah Hindia Belanda untuk mengadakan perbaikan pemukiman pendududk, khususnya bagi bangsa pribumi. Saran dan tujuan Tillema kemudia mendapat sambutan baik, antara lain dengan adanya Sociaal Technisce Vereeniging Congres yang pertama tahun 1922 di Semarang.

Upaya mencukupi Kebutuhan Perumahan Kota

Perkembangan dan perluasan kota-kota besar di Jawa dan di berbagai tempat menimbulkan kekurangan rumah tempat tinggal bagi penduduk kota. Hal demikian tidak dapat dibiarkan begitu saja oleh pemerintah. Berbagai upaya masyarakat pun dilakukan untuk mengatasi kesulitan tersebut.

Pada 1930 pekarangan rumah dibuat sesuai dengan keperluan, dan dengan pertimbangan antara lain (a) makin mahalnya harga tanah dan material (b) orang mulai menyukai hal-hal praktis dan memenuhi segala keperluan dan selera, golangan masyarakat indis meniru gaya hidup seperti cara hidup panutan masyarkat indis (c) susunan keluarga inti dianggap lebih penting sehingga mempersempit keluarga diluar keluarga inti untuk ngeger, ngindung, magersari, dsb (d) karena keluarga indis kebanyakan adalah pegawai pemerintah yang kemungkinan besar sering pindah ke lain kota, atau karena promosi jabatan dan terbukanya kenaikan karier. Akibatnya, orang lebih suka membuat rumah sesuai dengan kebutuhan. Pada akhirnya Firma Vokerklein Woningbouw mendirikan rumah kecil sebanyak 600 buah, rumah besar 82 buah.

Penggunaan Unsur Seni Tradisional dalam Rumah Gaya Indis

Upaya untuk mewujudkan penggunaan unsur-unsur seni bangunan tradisional setempat (khususnya Jawa) telah dilontarkan oleh Reflector di dalam Indisch Bouwkundig De Locomotif, terbitan 30 Juli 1907. Reflector menyetujui dan mengharapkan, hendaknya para ahli di Hindia Belanda terpanggil dan sadar untuk bangun dan mengambil sumber-sumber inspirasi dari bumi Hindia Belanda yang tidak ada habis-habisnya, antara lain dengan mengambil contoh-contoh dari arsitektur hasil karya bangsa yang dianggapnya lebih rendah atau tidak beradab. Hendaknya karya-karya yang merupakan ilham dari orang jawa yang berbakat tersebut dapat dipakai untuk bahan ide membangun arsitektur modern di dunia Timur. Reflector menganjurkan pula hendaknya jangan bersikap memiliki sentiment dan menolak menggunakan unsur-unsur budaya bangsa Pribumi. Berlage pada 8 April 1924 menyebutkan dan membenarkan bahwa di Hindia Belanda terdapat dua kelompok pendapat tentang penggunaan atau pemakaian seni budaya jawa dalam bangunan. Kelompok pertama, mengutamakan pemindahan dari negeri ibu (Belanda), yang menghendaki seni bangunan (nasional Belanda) diberlakukan di daerah koloni, khususnya jawa. Alasannya ialah kemajuan teknik bangunan tidak mudah untuk diduga sebelumnya. Kelompok kedua, adanya pertimbangan politik, mereka lebih mengharapkan adanya peralihan ke seni jawa yang dapat menuju ke seni Indi-Eropa, yaitu apabila nantinya Hindia Belanda telah dapat berdiri sendiri.

Tentang Hiasan Rumah Tinggal
Arsitektur rumah tinggal merupakan suatu bentuk kebudayaan. Menurut Marcus Vitruvius Pallio, tiga unsur yang merupakan faktor dasar dalam arsitektur yaitu: a. kenyamanan (convenience), b. kekuatan atau kekukuhan (strength) dan c. keindahan (beauty). Ketiga factor tersebut saling berhubungan dan selalu hadir dalam struktur bangunan yang serasi. Ketiga factor tersebut merupakan dasar penciptaan arsitektur yang memiliki estetika. Dari ketiga factor ini, wajarlah kiranya untuk menyebut bahwa arsitektur adalah suatu karya seni yang diciptakan melalui proses yang sangat sulit dan rumit. Karya seni umumnya hanya mementingkan aspek keindahan, misalnya yang dapat dilihat ada karya patung, sastra, atau musik. Beberapa abad lalu, arsitektur Eropa identik dengan gaya Renaisans, Barok, Rokokok, Empire, dan sebagainya. Gaya arsitektur tersebut banyak menerapkan ragam hias atau ornament. Ragam hias yang mereka buat biasanya berupa gambar tokoh, binatang maupun manusia yang sedang tertawa, menyeringai dan sebagainya. Gambar atau ragam hiasan merupakan suara bentuk ekspresi jiwa yang kemudian menghiasi objek agar tampak indah, bernilai magis atau simbolik. Akan tetapi, sejak abad ke 20 banyak benda tidak lagi memerlikan hiasan. Misalnya truk atau kapal, yang digunakan untuk sarana angkutan besi batangan. Demikian pula halnya pada arsitektur rumah. Rumah dan interiornya tidak lagi dihiasi karena memang dianggap tidak perlu.

Kesimpulan

Dari pembahasan yang kami jabarkan, dapat ditarik kesimpulan bahwa, penjajahan Belanda pada kurun abad XVIII hingga abad XX tak hanya melahirkan kekerasan, tapi juga memicu proses pembentukan kebudayaan khas, yakni kebudayaan dan gaya hidup Indis. Budaya gado-gado, percampuran budaya Barat dan unsur-unsur budaya Timur. Kebudayaan campuran ini mencakup ketujuh aspek unsur universal budaya bangsa, seperti yang dimiliki semua bangsa di dunia. Dengan demikian, kebudayaan Indis adalah kebudayaan yang merupakan kepanjangan kebudayaan Indonesia, yang terdiri atas kebudayaan Prasejarah, kebudayaan Hindu – Budha, dan kebudayaan Islam Indonesia. Bersamaan dengan runtuhnya kekuasaan Hindia Belanda ke tangan balatentara Jepang pada 1942, perkembangan kebudayaan Indis ikut-ikutan terhenti. Gaya hidup Indis yang mewah terusik oleh PD II yang berkecamuk dan melumpuhkan gairah hidup. Sulitnya hidup masa perang juga menghentikan segala aktivitas kesenian.Sungguh pun bangunan rumah gaya Indis masih banyak yang berdiri kokoh hingga kini, tetapi gaya hidup penghuninya yang bercirikan budaya Indis di Indonesia sudah tamat.Namun, sebagai buah kebudayaan, akar-akar budaya Indis masih ada yang tetap berlanjut, hidup di antara unsur-unsur budaya baru. Peradaban Indis tidak lagi menjadi kebanggaan sebagai identitas suatu golongan masyarakat dan sangat dimusuhi pada zaman Jepang dan revolusi fisik, tetapi telah melebur.Karena nilai-nilai baru belum ada, beberapa unsur peradaban yang banyak dianut dan diciptakan oleh kaum terpelajar, baik priyayi pribumi maupun golongan Indo, serta para birokrat pemerintahan dari masa zaman Hindia Belanda, masih tetap berlanjut.Sementara itu di Belanda orang-orang yang lahir atau pernah tinggal di Indonesia tetap melanjutkan kebudayaan Indis. Pasar malam Tong-tong di Den Haag, Indische Restaurant dengan sajian Indische rijsttafel seperti soto, nasi goreng, sate ayam, wedang ronde, sekoteng, dsb. hingga kini ramai dikunjungi orang.

Saran

Penyusun merasa belum dapat mengulas secara sempurna isi dari buku Prof. Dr. Djoko Soekiman, dalam judul Kebudayaan Indis dan Gaya Hidup Masyarakat Pendukungnya di Jawa (1996). Karena itu, penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca.

Terimakasih

Penyusun

Daftar Pustaka



Soekiman, Djoko. 2011. Kebudayaan Indis Dari Zaman Kompeni sampai Revolusi. Jakarta : Komunitas Bambu.

NN. 2010. Definisi Penyebab dan-Akulturasi. http://jolompong.blogspot.com. 25 September 2011.

Sujayanto, G. 2009. Budaya Indis ; Jawa Bukan Belanda. http://kopralcepot.blogspot.com. 25 September 2011.

Rabu, 30 Maret 2011

TUGAS KESMES I

KONSEP SEHAT
Kesehatan adalah sesuatu yang sangat penting dalam hidup, tanpa sehat, seseorang tidak dapat melakukan aktivitas dengan baik. Berikut adalah definisi sehat menurut beberapa sumber :
Kesehatan menurut World Health Organization (WHO), yaitu : Kesehatan Adalah suatu kondisi Sejahtera Jasmani Rohani serta Sosial Ekonomi.
Kesehatan menurut Parkins (1938) :Sehat adalah uatu keadaan seimbang yang dinamis antara bentuk dan fungsi tubuh dan berbagai faktor yang berusaha mempengaruhinya.
Kesehatan menurut White (1977) : Sehat adalah suatu keadaan di mana seseorang pada waktu diperiksa tidak mempunyai keluhan ataupun tidak terdapat tanda-tanda suatu penyakit dan kelainan.
Kesehatan menurut Pepkin’s :
Sehat adalah suatu keadaan keseimbangan yang dinamis antara bentuk tubuh dan fungsi yang dapat mengadakan penyesuaian, sehingga dapat mengatasi gangguan dari luar.
Kesimpulannya, sehat adalah suatu kondisi dimana tubuh, organ-organ, fikiran, berjalan dengan baik dan tidak adanya keluhan seperti penyakit baik fisiologis maupun psikologis.




Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental

A. Era pra Ilmiah
1. Kepercayaan Animisme

Sejak zaman dulu sikap terhadap gangguan kepribadian atau mental telah muncul dalam konsep primitif animeisme, ada kepercayaan bahwa dunia ini diawasi atau dikuasisi oleh roh-roh atau dewa-dewa. Orang primitrif percaya bahwa angin bertiup, ombak mengalun, batu berguling, dan pohon tumbuh karena pengaruh roh yang tinggal dalam benda-benda tersebuit.
Orang yunani percaya bahwa gangguan mental terjadi karena dewa marah dan membawa pergi jiwanya. Untuk menghindari kemarahannya, maka mereka mengadakan perjamuan pesta (sesaji) dengan mantra dari korban.

2. Kemunculan Naturalisme

Perubahan sikap terhadap tradisi animisme terjadi pada zaman Hipocrates (460-467). Dia dan pengikuutnya mengembangkan pandangan revolusioner dalam pengobatan, yaitu dengan menggunakan pendekatan ”Naturalisme”, suatu aliran yang berpendapat bahwa gangguan mental atau fisik itu merupakan akibat dari alam. Hipocrates menolak pengaruh roh, dewa, syetan atau hantui sebagai penyebab sakit. Dia menyatakan: ”Jika anda memotong batok kepala, maka anda akan menemukan otak yang basah, dan memicu bau yang amis, akan tetapi anda tidak akan melihat roh, dewa atau hantuyang melukai badan anda”.
Ide naturalkistik ini kemudian dikembangkan oleh Galen, seorang tabib dalam lapangan pekerjaan pemeriksaan atau pembedahan hewan.

Dalam perkembangan selajutnya, pendekatan naturalistik ini tidak dipergunakan lagi dikalangan orang-orang kristen. Seorang dokter perancis, Philipe Pinel (1745-1826) menggunakan filasafat politik dan sosial yang baru untuk memecahkan problem penyakit mental. Dia telah terpilih menjadi kepala Rumah Sakit Bicetre di Paris. Di rumah sakit ini, para pasiennya (yang maniac) dirantai, diikat ditembok dan ditempat tidur. Para pasien yang telah dirantai selama 20 tahun atau lebih, adan mereka dipandang sangat berbahaya dibawa jalan-jalan disekitar ruimah sakit. Akhirnya, diantara mereka banyak yang berhasil, mereka tidak menunjukkan lagi kecenderungan untuk melukai atau merusak dirinya sendiri.

B. Era Ilmiiah (Modern)

Perubahan yang sangat berarti dalam sikap dan era pengobatan gangguan mental, yaitu dari animisme (irrasional) dan tradisional ke sikap dan cara yang rasional (ilmiah), terjadi pada saat berkembangnya Psikologi Abnormal dan psikiatri di Amerika Serikat, yaitu pada tahun 1783. ketika itu benyamin rush (1745-1813) menjadi anggota staff medis dirumah sakit Penisylvania. Dirumah sakit ini ada 24 pasien yang dianggap sebagai ”lunaties” (orang-orang gila atau sakit ingatan).
Pada waktu itu sedikit sekali pengetahuan tentang penyakit kegilaan tersebut, dan kurang mengetahui bagaimana menyembuhkannya. Sebagai akibatnya, pasien-pasien tersdebut didukung dalam sel yang kurang sekali alat ventilasinya, dan mereka sekali-sekali digugur dengan air.
Rush melakukan usaha yang sangat berguna untuk memahami orang-orang yang menderita gangguan mental tersebut. Cara yang ditempuhnya adalah dengan melalui penulisan artikel-artikel dalam koran, ceramah, dan pertemuan-pertemuan lainnya. Akhirnya, setelah usaha itu dilakukan (selama 13tahun), yaitu pada tahun 1796, dirumah mental. Ruangan ini dibedakan untuk pasien wanita dan pria. Secara berkesenimbungan, rush mengadakan pengobatan kepada para pasien dengan memberikan dorongan (motivasi) untuk mau bekerja, rekreasi, dan mencari kesenangan.
Perkembangan psikologi abnormal dan pskiatri ini memberikan pengaruh kepada lahirnya Mental Hygiene yang berkembang menjadi suatu ”Body Of Knowledge” berikut gerakan-gerakan yang teorganisir.
Perkembangan kesehatan mental dipengaruhi oleh gagasan, pemikiran dan inspirasi para ahli, dalam hal ini terutama dari dua tokoh perintis, yaitu Dorothea Lynde Dix dan Clifford Whittingham Beers. Kedua orang ini banyak mendedikasikan hidupnya dalam bidang pencegahan gangguan mental dan pertolongan bagi orang-orang miskin dan lemah. Dorthea Lynde Dix lahir pada tahun 1802 dan meninggal duinia tanggal 17 July 1887. dia adalah seorang guru sekolah di Massachussets, yang menaruh perhatian terhadap orang-orang yang mengalami gangguan mental. Sebagian perintis (pioneer), selama 40tahun dia berjuang untuk memberikan pengorbanan terhadap orang-orang gila secara lebih manusiawi.
Usahanya mula-mula diarahkan pada para pasien mental dirumah sakit. Kemudian diperluas kepada para penderita gangguan mental yang dikurung dirumah-rumah penjara. Pekerjaan Dix ini merupakan faktror penting dalam membangun kesadaran masyarakat umum untuk memperhatikan kebutuhan para penderita gangguan mental. Berkat usahanya yang tak kenal lelah, di Amerika serilkat didirikan 32 rumah sakit jiwa, dimana dia layak mendapat pujian sebagai salah seorang wanita besar di abad 19.
Pada tahun 1909, gerakan kesehatan mental secara formal mulai muncul. Selama dsekade 1900-19090 beberpa organisasi kesehetran mental telah didirikan, sepert: American Social Hygiene Associatin (ASHA), dan American Federation for Sex Hygiene.
Perkembangan gerakan-gerakan dibidang kesehatan mental ini tidak lepas dari jasa Clifford Whittingham Beers (1876-1943). Bahkan, karena jasa-jasanya itulah, dia dinobatkan sebagai ”The Founder Of The Mental Hygiene Movement”. Dia terkenal karena pengalamannya yang luas dalam bidang pencegahan dan pengobatan gangguan mental dengan cara yang sangat manusiawi.
Dedikasi Beers yang begitu kuat dalam kesehatan mental, dipengaruhi juga oleh pengalamannya sebagai pasien dibeberapa rumah sakit jiwa yang berbeda. Selama dirumah sakit, dia mendapatkan pelayanan atau pengobatan yang keras dan kasar (kuarang manusia). Kondisi seperti ini terjadi, karena pada masa itu belum ada perhatian terhadap masalah gangguan mental, apalagi pengobatannya.
Setelah dua tahun mendapatkan perawatan dirumah sakit dia mulai memperbaiki dirinya, dan selama tahun terakhirnya sebagai pasien, dia mulai mengembangkan gagasan untuk membuat suatu gerakan untuk melindungi orang-orang yang mengalami gangguan mental atau orang gila (insane). Setelah dia kembali dalam kehidupan yang normal (sembuh dari penyakitnya), pada tahun 1908 di menindaklanjuti gagasannya demngan mempublikasikan sebuah tulisan autobiografinya sebagai, mantan penderita gangguan mental, yang berjudul ”A Mind That Found It Self”. Kehadiran buku ini disambut baik oleh Willian james, sebagai seorang pakar psikologi. Dalam buku ini, dia memberikan koreksi terhadap program pelayanan, perlakuan atau ”treatment” yang diberikan kepada para pasien dirumah sakit-rumah sakit yang dipandangnya kurang manusiawi. Disamping itu dia melupakan reformasi terhadap lembaga yang diberikan perawatan gangguan mental.
Beers meyakini bahwa penyakit atau gangguan mental dapat dicegah atau disembuhkan. Selanjutnya dia merancang suatu program yang bersifat nasional tujuan:
1) Mereformasi program perawatan dan pemngobatan terhadap orang-orang pengidap penyakit jiwa.
2) Melakukan penyebaran informasi kepada masyarakat agar mereka memiliki pemahaman dan sikap yang positif terhadap para pasien yang mengidap gangguan atau penyakit jiwa
3) Mendorong dilakukannya berbagai penelitian tentang kasus-kasus dan pengobatan gangguan mental.
4) Mengembangkan praktik-praktik untuk mencegah gangguan mental.

Program Beers ini ternyata mendapat respon positif dari kalangan masyarakat, terutama kalangan para ahli, seperti Wlliam James dan seorang Psikiatris ternama, yaitu Adolf Mayer. Begitu tertariknya terhadap gagasan Beers, Adolf Mayer menyarankan untuk menamai gerakan itu dengan nama ”Mental Hygiene”. Dengan demikian, yang mempopulerkan istilah ”Mental Hygiene” adalah Mayer.
Belum lama setelah buku itu diterbitkan, yaitu pada tahun 1908, sebuah organisasio pertama, didirikan, dengan nama ”Connectievt Society For Mental Hygiene”. Satu tahu kemudian, tepatnya pada tanggal 19 Februari 1909 didirikan ”National Commitye Siciety For Mental Hygiene”, disini Beers diangkat menjadi sekretarisnya. Organusasi ini bertujuannya:
1) Melindungi kesehatan mental masyarakat
2) Menyusun standar perawatan para pengidap gangguan mental
3) Meningkatkan studi tentang gangguan mental dalam segala bentuknya dan berbagai aspek yang terkait dengannya.
4) Menyebarkan pengetahuan tentang kasus gangguan mental, pencegahan dan pengobatannya
5) Mengkoordinasikan lembaga-lembhaga perawatan yang ada
Terkait dengan perkembangan gerakan kesehatan mental ini, Deutsch mengemukakan bahwa pada masa dan pasca Perang Dunia I, gerakan kesehatan mental ini mengkonsentarsikan programnya untuk membantu mereka yang mengalami masalah serius. Setelah perang usai, gerakan kesehatan mental semakin berkembang dan cakupan garapannya meliputi berbagai bidang kegiatan, seperti : pendidikan, kesehatan masyarakat, pengobatan umum, industri, kriminologi, dan kerja sosial.
Secara hukum, gerakan kesehatan mental ini mendapatkan pengukuhannya pada tanggal 3 Juli 1946, yaitu ketika presiden Amerika Serikat menandatangani ”The National Mental Helath Act”. Dokumen ini merupakan bluprint yang komprehensif, yang berisi program-program jangka panjang yang diarahkan untuk meningkatkan kesehatan mental seluruh warga masyarakat.
Beberapa tujuan yang terkandung dalam dokumen tersebnut itu meliputi:
1) Meningkatkan kesehatan mental seluruh warga masyarakat Amerika Serikat, melalui penelitian, inevetigasi, eksperimen penanganan kasus-kasus, diagnosis dan pengobatan
2) Membantu lembaga-lembaga pemerintah dan swasta yang melakukan kegiatan penelitian dan meningkatkan koordinasi antara para peneliti dalam melakukan kegiatan penelitian dan meningkatkan kegiatan dan mengaplikasikan hasil-hasil penelitiannya.
3) Memberikan latihan terhadap para personel tentang kesehatan mental
4) Mengembangkan dan membantu negara dalam menerapkan berbagai metode pencegahan, diagnosis, dan pengobatan terhadap para pengidap gangguan mental

Pada tahun 1950 organisasi kesehatan mental terus bertambah, yaitu dengan berdirinya ”National Association For Mental Health” yang bekerjasama dengan tiga organisasi swadaya masyarakat lainnya, yaitu ”National Committee For Mental Hygiene”, ”National Mental Health Foundation”, dan ”Psychiatric Foundation”.
Gerakan kesehatan mental ini terus berkambang, sehingga pada tahun 1075 di Amerika serikat terdapat lebih dari seribu tempat perkumpulan kesehatan mental. Dibelahan dunia lainnya, gerakan ini dikembangkan melalui ”The World Federation For Mental Health” dan “The World Health Organization”.
Sumber : (Yusuf, Syamsu. ”Mental Hygiene Perkembangan Kesehatan Mental dalam kajian Psikologi dan agam”. Pustaka Bani Quraisy bandung. Bandung. 2004 ; http://bpi2006uinjkt.blogspot.com/2009/06/sejarah-gerakan-kesehatan-mental.html)

Kepribadian Sehat Berdasarkan Teori Psikoanalisa

Psikoanalisis adalah cabang ilmu yang dikembangkan oleh Sigmund Freud dan para pengikutnya, sebagai studi fungsi dan perilaku psikologis manusia. Sigmund Freud sendiri dilahirkan di Moravia pada tanggal 6 Mei 1856 dan meninggal di London pada tanggal 23 September 1939.
Struktur kepribadian
Menurut freud, kehidupan jiwa memiliki tiga tingkatan kesadaran, yakni sadar (en:conscious), prasadar (en:preconscious), dan tak-sadar (unconscious).
Aliran psikoanalisis Freud merujuk pada suatu jenis perlakuan dimana orang yang dianalisis mengungkapkan pemikiran secara verbal, termasuk asosiasi bebas, khayalan, dan mimpi, yang menjadi sumber bagi seorang penganalisis merumuskan konflik tidak sadar yang menyebabkan gejala yang dirasakan dan permasalahan karakter pada pasien, kemudian menginterpretasikannya bagi pasien untuk menghasilkan pemahaman diri untuk pemecahan masalahnya.
Kepribadian Sehat berdasarkan teori psikoanalisa
 Manusia pada dasarnya ditentukan oleh energi psikis dan pengalaman-pengalaman dini
 Manusia sebagai homo valens dengan berbagai dorongan dan keinginan
 Motif-motif dan konflik tak sadar adalah sentral dalam tingkah laku sekarang
 Manusia didorong oleh dorongan seksual agresif
 Perkembangan dini penting karena masalah-masalah kepribadian berakar pada konflik-konflik masa kanak-kanak yang direpresi.

Dalam aliran Psikoanalisa ini bisa dibilang manusia adalah korban tekanan biologis dan konflik masa kanak-kanak. Aliran ini melihat dari sisi negative individu, alam bawah sadar (id,ego,superego, mimpi dan masa lalu.


Kepribadian Sehat Berdasarkan Teori Belajar Behaviouristik


Teori belajar behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.
Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000:143). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu pula bila respon dikurangi/dihilangkan (negative reinforcement) maka respon juga semakin kuat.
Beberapa prinsip dalam teori belajar behavioristik, meliputi: (1) Reinforcement and Punishment; (2) Primary and Secondary Reinforcement; (3) Schedules of Reinforcement; (4) Contingency Management; (5) Stimulus Control in Operant Learning; (6) The Elimination of Responses (Gage, Berliner, 1984).
Kepribadian Sehat Berdasarkan Teori Belajar Behaviouristik
Mementingkan faktor lingkungan
Menekankan pada faktor bagian
Menekankan pada tingkah laku yang nampak dengan mempergunakan metode obyektif.
Sifatnya mekanis
Mementingkan masa lalu

Manusia diperlukan sebagai mesin, layaknya alat pengatur panas yang mengatur semuanya. Aliran ini menganggap manusia yang memberikan respons positif yang berasal dari luar. Dalam aliran ini manusia dianggap tidak memiliki sikap diri sendiri. Dan ciri-cirinya yaitu : tersusun baik, teratur dan ditentukan sebelumnya, dengan banyak spontanitas, kegembiraan hidup dan krativitas.





Kepribadian Sehat Berdasarkan Teori Humanistik


Alport :

Alport adalah salah satu pengikut Freud, sampai setelahnya alport memutuskan untuk menolak psikoanalisis freud untuk kepentingan suatu pendekatan yang sangat berbeda terhadap studi kepribadian.
Menurut Alport orang-orang yang sehat dibimbing dan diarahkan oleh masa sekarang dan oleh intensi-intensi ke arah masa depan dan antisipasi-antisipasi masa depan. Pandangan orang ang sehat adalah ke depan, kepada peristiwa-peristiwa kontemporer dan peristiwa-peristiwa yang akan datang dan tidak mundur kembali kepada peristiwa-peristiwa masa kanak-kanak. Segi pandangan yang sehat ini memberi jauh lebih banyak kebebasan dalam memilih dan bertindak.
Konsep diri dari orang yang sehat
Proprium terdiri dari hal-hal atau proses-proses yang penting dan bersifat pribadi bagi seorang individu, sei-segi yang menentukan seseorang sebagai yang unik. Perkembangan Proprium terdiri dari tujuh tingkat, bila ketujuh perkembangan proprium sudah terpenuhi, ini adalah suatu prasyarat untuk mencapai suatu kepribadian yang sehat, yang terdiri dari :
• “Diri” Jasmaniah
• Identitas diri
• Harga diri
• Perluasan diri
• Gambaran diri
• Diri sebagai pelaku rasional
Sifat-sifat khusus dari kepribadian sehat
1. Perluasan Perasaan diri
2. Hubungan diri yang hangat dengan orang lain
3. Keamanan emosional
4. Persepsi realistis
5. Keterampilan-keterampilan dan tugas-tugas
6. Pemahaman diri
7. Filsafat hidup yang mempersatukan

Abraham Maslow :

Abraham Harold Maslow (1908 - 1970) adalah psikolog Amerika yang merupakan seorang pelopor aliran psikologi humanistik. Ia terkenal dengan teorinya tentang hirarki kebutuhan m Adapun hirarki kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Kebutuhan fisiologis/ dasar
2. Kebutuhan akan rasa aman dan tentram
3. Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi
4. Kebutuhan untuk dihargai
5. Kebutuhan untuk aktualisasi diri
Sifat-Sifat yang menggambarkan kepribadian sehat menurut Abraham maslow :
1) Mengamati realitas secara efisien
2) Penerimaan umum atas kodrat, Orang-orang lain dan diri sendiri
3) Spontanitas, Kesederhanaan, Kewajaran
4) Fokus pada masalah-masalah diluar diri mereka
5) Kebutuhan akan Indpendensi
6) Berfungsi secara otonom
7) Apresiasi yang senantiasa segar
8) Pengalaman-pengalaman mistik atau puncak
9) Minat social
10) Hubungan antar pribadi
11) Struktruk watak demokratis
12) Perbedaan sarana, tujuan antara baik dan buruk
13) Perasaan humor yang tidak menimbulkan permusuhan
14) Kreatvitas
15) Resistensi terhadap inkulturansi

Erich Fromm :

Apa yang mempengaruhi kepribadian adalah kebutuhan-kebutuhan psikologis yang tidak dimiliki oleh binatang-binatang lebih rendah. Semua manusia-sehat tidak sehat- didorong oleh kebutuhan-kebutuhan tersebut; perbedaan antara mereka terletak dalam cara bagaimana kebutuhan-kebutuhan ini dipuaskan. Orang-orang sehat memuaskan kebutuhab-kebutuhan psikologis secara kreatif dan produktif. Orang-orang yang sakit memuaskan kebutuhan tersebut dengan cara-cara irasional. Fromm mengemukakan lima kebutuhan yang berasal dari dikotomi kebebasan dan keamanan.
1. Hubungan
Cara yang sehat untuk berhubungan dengan dunia adalah melalui cinta.Cinta memuaskan kebutuhan akan keamanan dan juga menimbulkan suatu perasaan integritas dan individualitas. Definisi cinta meliputi, cinta kepada orang tua, diri sendiri dan sesama.
2. Transendensi
Erat hubunganya dengan kebutuhan akan hubungan ialah kebutuhan manusia untuk mengatasi untuk mengatasi atau melebihi peranan-peranan pasif sebagai ciptaan. Destruktifitas dan kreatifitas semuanya berakar secara mendalam pada kodrat manusia. Akan tetapi, kreativitas merupakan potensi utama dan menyebabkan kesehatan psikologis. Desdruktifitas hanya menyebabkan penderitaan objek perusakan dan juga si perusak.
3. Berakar
Hakikat kondisi manusia-kesepian dan tidak berarti-timbul dari pemutusan ikatan-ikatan utama dengan alam. Tanpa akar-akar ini manusia tidak berdaya, akar-akar ini harus dibangun untuk mengganti iktan-ikatan sebelumnyadengan alam. Seperti kebutuhan-kebutuhan lainnya, akar dapat dicapai secara positif atau negatif. Cara yang ideal ialah membangun suatu perasaan persaudaraan dengan sesama umat manusia, suatu perasaan keterlibatan, cinta, perhatian, dan partisipasi dalam masyarakat. Perasaaan solidaritas dengan orang-orang lain memuaskan kebutuhan untuk berakar, untuk berkoneksi dan berhubungan dengan dunia.
4. Perasaan Identitas
Manusia juga membutuhkan suatu perasaan identitas sebagai individu yang unik. Cara yang sehat untuk kebutuhan ini ialah dengan individualitas, proses dimana seseorang mecapai suatu perasaan tertentu tentang identitas diri. Orang-orang yang berkembang dengan perasaaan individualitas yang baik mengalami diri mereka seperti lebih mengontrol kehidupan mereka sendiri dan tidak dibentuk oleh orang-orang lain. Cara yang tidak sehat adal degan menyesuaikan diri dengan sifat-sifat suatu bangsa, ras, agama atau pekerjaan. Dengan menyesuaikan diri kualitas-kualitas diri ditentukan oleh kelompok-kelompok.

5. Bertalian dengan pencarian suatu perasaan diri yang unik ialah suatu pencari frame of reference atau konteks dengan mana seseorang meninterpretasikan semua gejala dunia. Setiap individu harus merumuskan suatu gambaran konsisten tentang dunia yang memberikan kesempatan untuk memahami semua persitiwa dan pengalaman.



Rogers :

Hal yang pertama dikemukakan tentang versi Rogers mengenai kepribadian yang sehat, yakni kepribadian yang sehat itu bukan merupakan suatu keadaan dari ada, melainkan suatu proses, suatu arah bukan suatu tujuan. Orang yang berkepribadian sehat menurut rogers adalah orang-orang yang mengaktualisasi diri yaitu orang-orang yang benar-benar diri mereka sendiri, mereka mengetahui bahwa mereka dapat berfungsi sebagai individu-individu dalam sanksi-sanksi dan garis-garis pedoman yang jelas dari masyarakat. Ciri orang berkepribadian sehat menurut Rogers adalah:
1) Keterbukaan pada pengalaman
2) Kehidupan eksistensial
3) Kepercayaan terhadap organism orang sendiri
4) Perasaan bebas
5) Kreativitas

Sumber :
Sumber : Schultz, Duane. 1991. Psikologi Pertumbuhan Model-model Kepribadian Sehat. Yogyakarta : Kanisius
http://moethya26.wordpress.com
http://hanasukachelseabgd.blogspot.com/2009/10/perbedaan-teori-kepribadian-sehat.html
http://community.gunadarma.ac.id/blog/view/id_2663/title_kepribadian-sehat-psikoanalisa-humanistik-dan/
http://devianggraeni90.wordpress.com/2009/10/12/perbedaan-psikoanalisa-behaviorisme-dan-humanistik-terhadap-kepribadian-sehat/